WU WEI SEBAGAI JALAN MENUJU KEBAIKAN DAN KEBAHAGIAAN
By leonardus.ansis / October 29, 2009 / No Comments / Uncategorized
Nama : Paulinus Kalkoy
Tingkat : III (minor II)
Jurusan : Filsafat Agama
[1] Bdk. J. Ohoitimur, “Sejarah Filsafat Tionghoa” (Traktat kuliah STF-SP, 2003), hlm. 46-50. [2] Ibid., hlm. 50 [3] Fung Yu-Lan, A Short History of Chinese Philosophy, edited by Derk Bodde, (New York: The Macmillan Company, 1960), hlm 224-225. [4] Wing-Tsit Chan, A Source Book in Chinese Philosophy, (Princenton: Princenton University Press, 1963), hlm. 255 [5] Sung-peng Hsu, Lao Tzu’s Conception of Ultimate Reality: A Comparative Study, in International Philosophical Quarterly, Vol. XVI, No. 2, June 1976, (New York: Fordam University), hlm. 207-208 [6] Ibid, hlm. 206. [7] Fung Yu-Lan, A Short History of Chinese Philosophy, hlm. 228 [8] Ibid, hlm. 225. [9] Bdk., Ibid, hlm. 259-260. [10] Wing-Tsit Chan, A Source Book in Chinese Philosophy, hlm. 791. [11] J. Ohoitimur, “Sejarah Filsafat Tionghoa”, hlm. 55-56.
|
WU WEI SEBAGAI JALAN MENUJU KEBAIKAN DAN KEBAHAGIAAN |
Pendahuluan Kebaikan dan kebahagiaan selalu menjadi impian dan kerinduan semua orang. Tidak ada orang yang bisa membebaskan diri dari keinginan ini. Karena itu, dengan pelbagai cara orang lalu berusaha untuk mencapainya. Dalam konteks ini, dapat dikatakan bahwa jalan yang ditempuh baik dengan aksi maupun dengan tidak membuat aksi sedikitpun. Manusia berusaha untuk mencapai kebahagiaan dengan jalan berdiam diri. Atau dengan kata lain kebaikan dan kebahagiaan dicapai lewat jalan berdiam diri, tanpa membuat aksi apapun. Dalam perpekif filsafat cina, cara tanpa aksi ini dikenal dengan sebutan wu-wei. Sedangkan cara yang ditempuh dengan membuat aksi dikenal dengan sebutan yu-wei. Apa yang dimaksud dengan wu-wei itu dan apa yang melatarbelakangi munculnya konsep tersebut oleh Lao Tzu? Itulah yang akan coba kami bahas dalam paper ini sitambah dengan komentar ataupun tanggapan kritis dari kami. A. Konteks Munculnya Konsep Wu Wei Wu-wei merupakan sebuah konsep yang dimunculkan oleh Lao Tzu berkaitan dengan kritiknya terhadap pendekatan moral yang dilakukan oleh Konfucius dalam upaya konstruktif untuk memelihara dan memberi makna bagi kehidupan manusia. Dalam hal ini memelihara dan melindungi kehidupan dari ancaman-ancaman yang membahayakan eksistensi. Menurut pendapat Konfucius, kebaikan moral kodrat manusia sebagai dasar dan gerbang menuju kebahagiaan. Hal ini berbeda dengan Lao Tzu yang sangat menekankan peranan Tao, di mana orang harus mengikuti dan bersatu dengannya. [1] Sumber kritik terbesar dari Lao Tzu yakni ajaran Konfucius yang hanya menekankan kemanusiaan (jen) dan kebenaran-tindakan (yi) sebagai prinsip moral. Baginya, ajaran moral seperti ini tidak efektif, karena norma itu ditemukan justru dalam Tao. Akan tetapi karena moralitas tidak menghasilkan perdamaian dan kebahagiaan, maka pendekatan itu harus ditinggalkan. Itu berarti moralitas hanya bisa diabaikan apabila sumber-sumbernya ditiadakan. Kebahagiaan dan kebaikan dapat dicapai tidak dengan aksi, tetapi justru dengan non-aksi yang bersumber dari kesederhanaan Tao. Prinsip non-aksi inilah yang disebut wu-wei.[2] B. Wu Wei : “no action” Hsiang-Kuo memberikan interpretasi baru untuk ide-ide Taoisme sebelumnya tentang alam semesta dan tentang yu–wei atau aksi, dan wu-wei atau tanpa aksi. Disebutkan bahwa ketika keadaan sosial berubah, institusi dan moralitas baru secara spontan memproduksikan dirinya. Membiarkannya berlalu tanpa tanggapan berarti mengikutinya dan menjadi wu-wei, tanpa aksi.[3] Akan tetapi, apakah itu wu-wei? Apakah tanpa aksi yang dimaksudkan yakni tidak berbuat apa-apa saja? Secara harafiah, wu-wei dapat diterjemahkan dengan “tidak mempunyai kegiatan” atau “tidak berbuat”. Tetapi bila memakai terjemahan ini, sesungguhnya istilah ini bukan berarti sama sekali tidak ada kegiatan, atau sama sekali tidak berbuat apapun. Yang dimaksudkan dengan istilah ini yakni berbuat tanpa dibuat-buat dan semau-maunya.[4] Kegiatan sama saja seperti hal-hal lain. Jika terlampau banyak, menjadi merugikan dan tidak baik. Lebih dari itu, tujuan berbuat sesuatu adalah agar dapat menyelesaikan sesuatu untuk mendatangkan sesuatu yang bermanfaat. Atau dengan kata lain agar memperoleh kebahagiaan dan kebaikan. Akan tetapi bila sesuatu itu dikerjakan secara berlebihan, maka hasilnya dapat berupa sesuatu yang berlebihan, yang mungkin lebih buruk dibandingkan jika tidak mengerjakannya sama sekali. Sikap dibuat-buat dan semau-maunya berlawanan dengan sikap kodrati karena wu-wei adalah tindakan bebas dan spontan lahir dari hakikat. Ketika sebuah tindakan dilakuakan secara spontan, tanpa pengaruh tempat dan usaha; tanpa diskrimansi kesengajaan, pilihan, atau karya, sesuatu itu adalah tindakan tanpa aksi (wu-wei). Dengan kata lain, wu-wei tidak berarti bahwa tanpa tindakan menurut nilai evaluatif dan petunjuk-petunjuk “konvensional” yang telah diterima oleh umum.[5] Pernyataan ini dilatarbelakangi oleh pengandaian bahwa ketika Tao mengalami kekosongan yang adalah ketiadaan kualitas (wu-ming), ketika itu pula tak pernah memiliki atribut evaluatif serta petunjuk-petunjuk (wu-wei).[6] Wu-wei bukan “ketidakgiatan” melainkan “ketiadaan tindakan yang tidak wajar, atau dalam Budhis digunakan istilah “penyebab yang tidak berproduksi”. [7] Wu–wei juga dapat dipahami dengan melihat ekspresi bakat seseorang. Dikatakan bahwa ketika seorang individu dalam tindakkannya memberikan bakat naturalnya untuk melatih dirinya secara penuh dan bebas, ia adalah wu-wei.[8] Dengan demikian wu-wei tidak hanya menunjuk pada tiadanya tindakan tetapi sekaligus menunjuk pada orang yang secara penuh mengekspresikan bakat-bakatnya. Dalam konteks meditasi, wu-wei pun dapat dipahami. Wu-wei dipandang sebagai sarana untuk membangkitkan konsentrasi sehingga tetap terpusat pada proses meditatif yang dijalankan sehingga boleh memperoleh apa yang akan ditemukan.[9] Kaum Legalistis melihat wu-wei sebagai suatu idelalisme Tao yang salah karena jika hukum bekerja setiap waktu, maka tidak ada yang membutuhkan aktualitas pemerintah.[10] Prinsipnya dengan adanya wu-wei, pelaksanaan hukum dilaksanakan sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukakan sehingga pemerintah yang atas salah satu cara berfungsi sebagai pengintrol tidak lagi diperlukan. Konsekuensinya kekerasan dalam bentuk apapun tidak diperkenankan. Yang ada hanyalah keadilan masyarakat, karena semuanya hidup sesuai dengan apa yang seharusnya dihidupi dan ada. Agar prinsip wu-wei dapat dijalankan maka tiga prinsip dasar harus dimiliki. Ketiga prinsip dasar itu yakni: pertama, kerendahan hati yang berarti bersatu dengan inti kehidupan, selalu dekat dengan keaslian diri yang sederhana dan tulus. Sikap kedua yakni kelemahlembutan yang berarti menjauhi kekerasan, karena hakikat kekerasan adalah merebut sesuatu untuk diri sendiri. Sikap ketiga yakni penyangkalan diri yang berarti manusia tidak merasa memiliki dirinya sendiri. Hanya orang yang menyangkal diri dan mengatakan bahwa ia bukan pemilik dirinya dapat masuk dalam ketenangan sempurna.[11]
- Wu-wei: Sebuah komentar
Daftar Pustaka:
Fung Yu-Lan. A Short History of Chinese Philosophy. Edited by Derk Bodde. New York: The Macmillan Company, 1960. Wing-Tsit Chan. A Source Book in Chinese Philosophy. Princenton: Princenton University Press, 1963. Sung-peng Hsu. Lao Tzu’s Conception of Ultimate Reality: A Comparative Study, in International Philosophical Quarterly, Vol. XVI, No. 2, June 1976, New York: Fordam University. Ohoitimur, J. “Sejarah Filsafat Tionghoa”. Traktat Kuliah STF-SP, 2003.
C. Tanggapan Kritis atas konsep Wu Wei Jang konga kwa……………..
[1] Bdk. J. Ohoitimur, “Sejarah Filsafat Tionghoa” (Traktat kuliah STF-SP, 2003), hlm. 46-50. [2] Ibid., hlm. 50 [3] Fung Yu-Lan, A Short History of Chinese Philosophy, edited by Derk Bodde, (New York: The Macmillan Company, 1960), hlm 224-225. [4] Wing-Tsit Chan, A Source Book in Chinese Philosophy, (Princenton: Princenton University Press, 1963), hlm. 255 [5] Sung-peng Hsu, Lao Tzu’s Conception of Ultimate Reality: A Comparative Study, in International Philosophical Quarterly, Vol. XVI, No. 2, June 1976, (New York: Fordam University), hlm. 207-208 [6] Ibid, hlm. 206. [7] Fung Yu-Lan, A Short History of Chinese Philosophy, hlm. 228 [8] Ibid, hlm. 225. [9] Bdk., Ibid, hlm. 259-260. [10] Wing-Tsit Chan, A Source Book in Chinese Philosophy, hlm. 791. [11] J. Ohoitimur, “Sejarah Filsafat Tionghoa”, hlm. 55-56.
