RINGKASAN FILSAFAT MANUSIA
By leonardus.ansis / May 3, 2022 / No Comments / Leonardus, Makalah, Paper, Ringkasan Buku, Tugas Kuliah
Manusia dalam hidupnya selalu berusaha mewujudkan identitias dirinya. Cara perwujudan diri ini disebut bereksistensi: caranya manusia keluar dari dirinya sendiri untuk menjumpai yang lain di luar dirinya. Tentang cara berada ini banyak filsuf coba memberikan rumusan masing-masing, dan sudah pasti rumusan yang diberikan pun bermacam-macam. Namun, dalam ringkasan ini kami hanya akan melihat dua cara berada manusia yang paling umum, yakni: ada-di- dalam-dunia dan ada-bersama-yang lain. Dua cara berada ini kemudian diterjemahkan dalam dua jenis kehadiran: ada-infra-human berada sebatas berada, dan ada-human berada sejauh hadir. Kehadiran inilah yang mengandung bobot pembeda ini antara ada-human ada ada-infra-human.
Eksistensia manusia dalam dunia.
Manusia adalah in-der-welt-sein. Sebagai ada-di-dunia manusia ada di dunia. Dalam dunia berarti sebagai tempat manusia bereksistensi dan dunia sebagai pembentuk struktur kemanusiaan subyek manusia yang berkesistensi itu. Hal ini berarti bahwa dunia mempunyai hubungan dasar dan instrinsik dengan manusia, bahwa manusia bukan hanya sekedar ada melainkan hadir. Kehadiran ini berhubungan erat dengan kemampuan manusia untuk mengambil jarak dengan dunianya. Jadi manusia bukan hanya ada dalam dunia, melainkan manusia itu sendiri ada-di-dunia. Manusia ada di dunia merupakan suatu tuntutan mutlak supaya subyek itu dapat dikatakan sebagai manusia.
Oleh karena itu, kita akan melihat beberapa cara berada manusia yang menunjukkan kemampuan mengambil jarak itu.
- Manusia dan tubuh: tubuh adalah dimensi yang pertama dan paling jelas dari manusia. Pada tingkat somatisitas, manusia dapat dibedakan dari ada-infra-human yakni: dalam hal penguasaan manusia atas tubuhnya (mis: dalam bidang kesehatan) dan posisi vertikalnya berarti manusia bisa menguasai gerakan-gerakannya dan juga lingkungannya. Tubuh manusia sendiri mempunyai beberapa fungsi: Fungsi menduniakan manusia, fungsi epistemologis, Fungsi memiliki dan kehadiran, fungsi asketis, fungsi sebagai bahasa dan alat komunikasi, fungsi sebagai tempat ekspresi dari aku, fungsi sejarah.
- Manusia dan kerja: kerja merupakan aktivitas spesifik yang dimiliki oleh manusia karena tidak ada makhluk lain di dunia ini yang memiliki kemampuan bekerja seperti manusia. Lalu apa sebenarnya defenisi dari kerja? Kerja adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk mempergunakan barang-barang natural atau untuk memodifikasi lingkungan demi pemuasaan kebutuhan-kebutuhan manusiawi. Ada tiga hal yang tarkandung dalam rumusan ini: 1) ketergantungan manusia pada alam sejauh berhubungan dengan hidup dan kepentingan-kepentingannya. 2) reaksi aktif dari manusia diperhadapkan pada ketergantungan itu untuk suatu hasil yang berguna. 3) tingkatan tenaga yang kurang lebih dinaikkan, hukuman atau kelemahan, yang membentuk harga atau nilai manusia dari kerja.
Kerja merupakan aspek spesifik dari manusia, namun ada berbagai pandangan baik yang positif maupun negatif tentang kerja itu sendiri. Misalnya dalam pemikiran klasik, Aristoteles menganggap hina setiap pekerjaan yang menekan intelek, kurang menghargai kerja. Dalam pemikiran kristen “juga terdapat penilaian negatif terhadap kerja meskipun sering kerja dianggap sebagai sarana untuk penyucian dan keselamatan, kerja tangan dianggap sebagai pekerjaan budak…”
Perubahan pemahaman tentang kerja muncul berkat revolusi antropologis, berangkat dari zaman pencerahan dan pembaharuan protestan. Pada masa ini muncul konsep baru tentang kerja, suatu cara baru dalam menilai pekerjaan, yakni sebagai aktivitas yang penting, dasariah, baik dalam konteks perkembangan manusia pun dalam konteks keselamatan kekal.
- Pentingnya kerja dalam kehidupan manusia merupakan suatu kenyataan yang tidak bisa dihindari lagi. Pentingnya kerja kalau dipelajari dalam lintasan sejarah dibagi atas dua: kerja sebagai alat saja dan kerja sebagai aktivitas spesifik dari manusia.
- Dalam kaitan dengan kerja suatu nilai yang harus diperhatikan adalah kerja untuk manusia dan bukan manusia untuk kerja.
MAKNA KERJA
Semua orang harus bekerja, baik tuan maupun hamba, baik majikan maupin buruh. Karena Tuhan sendiri sudah memberikan teladan kepada manusia tentang bekerja,”Enam hari lamanya engkau akan bekerja” (Kej 23:12). Meskipun demikian dalam perkembangan sejarah sering muncul pula pangan negatif tentang kerja, sebagaimana yang dimaksudakan oleh Plato dengan tidak memberikan tempat kepada perbudakan; juga oleh Aristoteles,”yang menganggap hina setiap pekerjaan yang menekan intelek. Beruntung dalam perkembangan selanjutnya kemudian muncul konsep baru tentang kerja, suatu penilaian baru tentang kerja, yakni sebagai aktivitas yang penting, dasariah baik dalam perkembangan manusia pun dalam konteks keselamatan kekal. Mengingat penting nilainya kerja ini maka dalam buku Iman Katolik ditegaskan bahwa,”Dengan bekerja, hidup sendiri mendapat arti. Demi hormat terhadap martabat manusia tak seorangpun boleh dihalangi bekerja;demi harga diri, setiap orang wajib bekerja menanggung hidupnya sendiri dengan nafkah yang ia peroleh dan mendukung hidup bersama, terutama supaya dengan pekerjaan kita orang lain mendapat kesempatan kerja.[1]
Kerja itu baik bagi manusia, suatu kebaikan bagi kemanusiaannya, karena melalui kerja manusia bukan hanya mengubah alam sambil menyesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhannya, melainkan juga merealisasikan dirinya sebagai manusia dan menyempurnakan manusia proyeknya[2]
Walaupun kerja merupakan suatu unsur berharga dalam perkembangan dan kelangsungan hidup manusia kini kerja itu menjadi beban dalam arti yang lain: irama kerja yang menyediakan ruang hidup itu, hancur. Orang tidak bekerja lagi dalam irama alam melainkan dalam irama mesin dan di bawah perintah orang lain. Bahkan orang tidak lagi bekerja dalam kebersamaan, melainkan demi merebut sesuap nasi melawan saingan teman sendiri.
Meskipun demikian, kami ingin menegaskan sekali lagi bahwa pekerjaan tetap merupakan bagian hidup manusia, bukan sarana mencapai sesuatu tujuan di luar manusia. Membuat pekerjaan menjadi sarana produksi melulu, berarti merendahkan martabat manusia. Juga dalam masyarakat teknis, yang di dalamnya manusia harus menempatkan diri dalam kerangka produksi yang lebih luas, pekerjaan manusia tetap bernilai, karena manusia sendiri bernilai. Dan ketika manusia tidak lagi menikmati nilai kerjanya secara pribadi dan langsung, maka kita semua harus memberikan perhatian serius soal upah dan kedudukan manusia pekerja itu dalam masyarakat.
Dalam pekerjaan setiap invidu harus harus dihormati: orang yang bekerja dalam ketergantungan dan tidak bebas memilih pekerjaan perlu dilindungi dan juga para buruh yang sering bekerja tidak sesuai dengan rencana mereka sendiri, kita tetap memberi perhatian dan menghormati orang yang bersangkutan karena tetap berlaku princip bahwa setiap orang adalah pribadi yang otonom, yang harus dihormati.
Kita perlu menghormati manusia yang bekerja karena kerja merupakan aktivitas spesifik dari manusia. Karena sebagaimana dikatakan oleh Paus Leo XIII dalam Reru Novarum, khususnya no. 27 dan Paus Yohanes Paulus II dalam Laborem Exercens, khususnya nomor 18, 25, dan 27 dengan bertitik tolak dari Kitab Kejadian bahwa kerja sebagai dimensi dasar dari eksistensi manusia di atas bumi. Selain itu kerja juga harus dimengerti, dihayati dan dipraktekan sebagai suatu partisipasi pada Salib Kristus, yaitu keselamatan manusia pekerja itu sendiri dan juga kerja itu dimengerti dan dipraktekan sebagai suatu partisipasi pada kebangkitan Kristus, yaitu kedatangan Kerajaan Allah.
******
RINGKASAN FILSAFAT MANUSIA
Berbicara tentang manusia selalu menarik, karena realitas yang paling dekat dengan kita adalah manusia. Sebagaimana dikatakan oleh K. Jung,”rahasia kosmis yang paling besar dan yang paling dekat dengan kita adalah manusia.” Tetapi menjadi pertanyaan untuk kita adalah siapakah manusia? Untuk menjawab pertanyaan tentu saja kami tidak dapat menyajikan secara tuntas dalam satu halaman ringkasan, akan tetapi ada beberapa hal menarik yang kami uraikan berkaitan dengan siapakah manusia itu.
Manusia mencari identitas
Banyak ilmu pengatahuan memberi perhatian kepada manusia dengan coba merumuskan konsep tentang manusia akan tetapi tidak ada ilmu pengatahuan yang dapat memberikan suatu rumusan atau konsepsi yang utuh tentang manusia. Yang terjadi ialah masing-masing ilmu pengetahuan hanya memberikan konsep yang fragmentaris tentang manusia; dan hal ini sebenarnya sudah dikhawatirkan oleh Max Scheler sendiri. Padahal usaha manusia untuk mengenal dirinya sendiri sangat penting, sebagaimana ditegaskan oleh Montaigne,”Manusia yang tidak mengenal dirinya sendiri telah terjurumus ke dalam pelbagai macam kecemasan, keputusasaan, kekuatiran, dan pengalaman negatif lainnya. Apa yang dikatakan oleh Montaigne ini benar, karena apabila manusia hanya mengenal satu dimensi dalam totalitas dirinya dan berusaha mempertahankan maka akan terancam oleh bahaya kompleksitas pengalaman di kemudian hari.
Oleh karena itu, manusia harus bermenung dan berusaha mengungkapkan rahasia misteri dirinya meskipun masih dalam taraf terbatas. Untuk itu kita akan melihat beberapa rumusan Tentatif tentang Manusia:
Defenisi berdasarkan kodrat religius menusia. Defenisi ini berangkat dari Kitab Kejadian: Manusia adalah imago dei, karena Allah hadir dalam manusia ciptaan-Nya dan Allah menghembuskan nafas hidupNya ke dalam ciptaanNya itu.
Defenisi berdasarkan kodrat/kapasitas karakteristik manusia.
Pada bagian ini kita akan melihat kodrat karakteristik dalam subjek manusia. Kapasitas pertama dan yang paling masyur adalah manusia sebagai animal rationale. Plato merumuskan defenisi tentang manusia ini dengan menambahkan kemampuan memperoleh manusia. Kemudian, Thomas Aquinas melanjutkan pemikiran Plato tentang ratio dan menghubungkannya dengan tindakan manusia yang biasanya terbagi atas dua kemungkinan: baik-buruk, kebenaran dan kekeliruan,dll. Ratio selalu mempertimbagan mana yang baik dan buruk. Karena itu, apabila manusia dapat mewujudkan dirinya secara baik, maka bentuk perwujudan itu sesuai kodrat manusia.
Defenisi berdasarkan kemungkinan auto-proyeksi manusia
Setiap manusia mempunyai kemungkinan untuk memproyeksikan dirinya. Tetapi kemampuan untuk memproyeksikan diri sangat tergantung pada kesadaran manusia akan kemampuan-kemampuan yang ada di dalam dirinya.. Apabila manusia tidak menyadari akan kemampuan-kemampuan itu, maka manusia tidak dapat memproyeksikan dirinya. Pertanyaannya kemampuan-kemampuan apa yang ada pada manusia sehingga manusia dapat memproyeksikan dirinya?
Menurut Aristoteles salah kemampuan manusia adalah ratio. Dengan kemampuan rational manusia mampu memutuskan sendiri apa yang ingin dibuatnya. Kemampuan untuk memutuskan secara rational inlah yang membentuk manusia sebagai manusia. Manusia tidak dapat membuat proyek untuk dirinya sendiri kalau tidak mempunyai untuk memutuskan apa yang harus dibuat untuk dirinya sendiri. Meskipun manusia mempunyai kemampuan untuk memproyeksikan dirinya, tetapi harus diakui bahwa pasti ada keterbatasan dalam usaha itu. Karena apa yang hendak dicapai oleh seseorang di masa yang akan datang sebenarnya sudah dikondisikan pada masa lampau seseorang.
KOMENTAR
Berbicara tentang manusia sangatlah umum dan luas bila dikaji secara mendalam dan mendetail. Sehingga tidak heran bahwa sampai ini ada begitu banyak perbedaan paham tentang manusia itu sendiri. Meskipun demikian beberapa filsuf telah berusaha untuk memberikan satu rumusan dan konsep tentang manusia. Dalam filsafat secara khusus filsafat manusia, manusia yang nyata tetapi sering sangat misteri telah dikaji secara lebih mendalam dengan segala bentuk perumusan yang berkenaan dengan pengalaman manusia itu sendiri berhadapan dengan dunia sekitarnya.
Walaupun dalam perumusan konsep tentang manusia itu ada beberapa yang sudah melengser jauh, bahkan demi menegaskan begitu pentingnya posisi manusia maka Allah disingkirkan untuk sementara. Ada yang beranggapan bahwa kehadiran Allah dan manusia hanya mengganggu dan menghalangi kebebesan manusia. Seperti yang diuraikan dan diungkapkan oleh beberapa filsuf di bawah ini.
Spinoza,” menegaskan bahwa manusia tidak mempunyai substansi atau hekekat sendiri. Yang mempunyai substansi hanyalah Allah, sedangkan apa yang ada pada manusia bukanlah substansinya sendiri, melainkan hanyalah atribut Allah yang sudah dimodifisikan sesuai kondisi manusia.”
Feuerbach,”demi menegaskan posisi manusia, maka ia sampai penyangkalan akan Allah. Ia menyangkal Allah untuk menegaskan posisi manusia.” Padahal, kita sebagai orang beriman dan berbicara tentang manusia terlepas dari Allah maka saya berpikir itu sesuatu yang tidak mungkin. Dan pendapat yang sama atau boleh dikata “lebih gila” lagi yakni apa yang dikatakan oleh Sastre
Sastre,” menegaskan bahwa Allah sudah mati. Memang Allah dulu pernah berbicara kepada kita, tetapi sekarang Allah itu berdiam diri dan kita menyentuh hanya bangkainya. Sasre berbicara demikian demi menegaskan kebebasan dan realisasi diri manusia.bahkan ia menambahkan bahwa kehadiran Allah dan sesama sebagai penghalang kebebasan manusia dan realisasi diri manusia.
Apa yang dikatakan oleh beberapa filsuf di atas memang berbeda dengan apa yang saya ketahui selama ini. Saya tidak mengatakan bahwa apa yang mereka ungkapkan salah, karena apa yang mereka ungkapkan mungkin sesuai dengan kondisi mereka pada saat itu.
Namun saya ingin mengajak kita untuk meluangkan sedikit waktu untuk bermenung dan bertanya terus: tentang siapa diri kita? Siapakah manusia? Mungkin jawaban yang kita temukan sering membingungkan kita karena apa yang kita kenal tentang diri kita seperti ini, tetapi orang lain punya yang lain juga tentang diri kita. Untuk itu, mungkin jawaban Marcus Aurelius bisa membantu kta untuk untuk memahami siapakah dan apakah manusia? Marcus Aureliusmembantu kita untuk tidak bingung tentang siapakah manusia. Ia mengatakan bahwa kita harus berusaha untuk to master oneself: menguasai diri sendiri atau menjadi tuan bagi diri sendiri. Segala usaha yang dibuat untuk merumuskan manusia dimaksudkan bukan terutama untuk mengetahui atau menambah pengetahuan manusia tentang manusia tetapi supaya manusia dapat menguasai dirinya sendiri. Jadi tujuan yang dicapai melalui perumusan manusia bersifat personal-moral: untuk menguasai diri dan mengarahkan manusia itu sendiri. Supaya manusia bisa menguasai dan mengarahkan diri maka manusia perlu menatap ke depan sambil menelusuri kehidupan dan keberadaannya, dan tetap membuka diri untuk menerima masukan-masukan yang baik dari orang-orang lain.
[1] Bdk.Kwi, Iman Katolik cet-7 (Yogyakarta: Kanisius dan Jakarta:Obor, 2000), hlm. 48.
[2] Bdk. J.J. Montolalu, “Filsafat Manusia, “ (Traktat Kuliah STF-SP), hlm. 2003
