Oleh: Johanes Danny Surentu

Judul               Kristologi dan Allah Tritunggal

Pengarang       JB. Banawiratma

Penerbit           Yogyakarta: kanisius, 1986

Jumlah hal.      102

1. Kristologi dan Allah Tritunggal

A. Pendahuluan: yang dihafal

            Dalam buku ini penulis mempertanyakan kebiasaan dari umat Katolik menghafal Katekismus, di mana rumus-rumus yang dogmatis seperti tercantum dalam katekismus dan yang kita hafalkan mengenai Yesus Kristus adalah Anak Allah ataupun “Allah-Anak” (yang tidak sama artinya) dan malah Allah. Yesus Kristus, Allah dan manusia, menjadi juru selamat dunia oleh karena menebus manusia dari dosa-dosanya melalui wafat dan kebangkitan Kristus. Orang  Kristen juga yakin bahwa Allah, pencipta, dunia semesta, tentu saja Allah yang Mahaesa, tetapi serentak Allah Tritunggal, Allah-Bapa, Allah-anak dan Allah Roh Kudus. Oleh karena itu, orang Kristen perlu mendapat penjelasan yang cukup memadai.Yesus Kristus serentak Allah dan manusia oleh karena pada Yesus ada satu pribadi, yakni pribadi Allah-Anak (diri ilahi kedua) dan dua “kodrat”, yaitu keallahan dan kemanusiaan. Dan justru itulah sebabnya mengapa Yesus Kristus dapat menjadi Juru Selamat dan penebus dunia. Allah Tritunggal adalah yang Mahaesa oleh karena keallahan  memagang satu dan esa, tetapi ada tiga pribadi yang tidaklah sama.

B. Permasalahannya: Katekismus itu relevan?

            Secara emosional umat Kristen sangat terikat pada rumus-rumus katekismus. Namun, penulis berani menanyakan kalau rumus-rumus itu banyak artinya bagi umat, apa pula bagi penghayatan imannya? Apakah bagi umat relevan apa yang mereka hafalkan? Gambaran apa yang muncul dalam benak mereka bila atau mendengar tentang Allah yang Mahaesa- yang tampil dalam sekian banyak sambutan dan pidato, wejangan dan khotbah, yang- sesuai dengan pancasila- menggunakan ungkapan Tuhan/Allah yang maha esa namun oleh umat Kristen dikatakan tiga pribadi?

            Oleh karena itu, sunggu keyakinan Kristen dalam Katekismus penuh dengan paradoksal bunyinya: Serentak Allah dan manusia, serentak satu/esa dan tiga; ada satu pribadi dan dua kodrat dan ada tiga pribadi dan satu kodrat. Berhadapan dengan situasi di atas tentu umat beragama akan menggelangkan kepala dan bahkan ada umat juga yang mulai ragu.

C. Dogma/Katekismus dan Perjanjian Baru.

  • Katekismus tidak ditemukan dalam Perjanjian Baru.

            Masalah akan bertambah rumit apabila kita membaca “sumber”, pangkal agama dan keyakinan kristen, yaitu Kitab Suci, khususnya Perjanjian baru. Kalau baca dengan baik, orang tidak menemukan rumus seperti tercantum dalam katekismus dan pernah dihafalkan. Yang ditemukan adalah ceritera sekitar Yesus, sejumlah wejangan, nasihat dan petuah  dari Yesus dan oranglain. Dalam perjanjian  Baru kita menemukan puluhan gelar dan nama yang diberikan kepada Yesus, antara lain: Anak Allah (tidak pernah:Allah-anak) dan juga “Tuhan” (tidak sama arti dengan Tuhan yang Mahaesa), Juga tidak ditemukan Allah Tritunggal (kecuali dalam sisipan I yoh 5:7), tiga “pribadi”  ataupun istilah “kodrat manusia, kodrat Allah”. Kita juga bisa menemukan dalam PB tentang Allah yang disebut Bapa dan tampil juga gejala-gejala yang disebut Roh Kudus  atau roh.

  • Dogma atau katekismus hasil pertemuan Perjanjian Baru dengan alam pikiran Yunani.

            Meksipun orang merasakan perbedaan antara Perjanjian Baru dan Dogma/katekismus, namun orang Kristen mau mempertahankan bahwa katekismusnya dijabarkan dari Perjanjian Baru. Untuk mengatakan hal seperti di atas, maka kita perlu ingat data-data dari PB (selesai ditulis sekitar 120 M) dan “dogma” mengenai Yesus Kristus dan Allah Tritunggal,  berlangsung tiga sampai empat ratus tahun.  Dogma itu bahkan merupakan hasil pertemuan bahkan bentrokan antara iman keprcayaan Kristen seperti dalam PB dan serta kebudayaan Yunani (Romawi). Mengingat konteks itu,  dimana rumus-rumus dogma memakai alam pikiran Yunani dan malah istilah filsafat, maka bagi kita sekarang apalagi umat sering tidak jelas sama sekali artinya dan malah mudah menyesatkan pikiran tentang Yesus dan Allah.

            Maka sebaiknya umat Kristen hendaknya kembali saja ke sumbernya, yaitu Alkitab dan khususnya Perjanjian Baru.

  • Dogma dan Katekismus Memperkurus Perjanjian Baru.

            Orang yang membaca dan sedikit menggumuli PB dan Alkitab akan merasa bahwa iman kepercayaan Kristen mengenai Allah dan Yesus Kristus jauh lebih berisi dan luas daripada yang terungkap dalam dogma yang termaktub dalam katekismus. Tetapi kira-kira tahun 150 dan 500 M,  hanya beberapa unsur dari kekayan Alkitab dipikirkan dan diperkembangkan  lebih lanjut dan dirumuskan kembali dalam rangka kebudayaan Yunani dan pertikaian teologis-kristologis di kalangan umat kristen. Sedangkan kristologi-teologi yang menjadi matang antara tahun 150-500 sesudahnya sampai kini tidak berubah lagi. Hanya diulang-ulang, diperdalam dan diperhalus.

            Dengan demikian dogma-dogma mengenai  Allah Tritunggal dan Yesus Kristus yang dirumuskan Konsili Nikea (325), Efese (431), khalkedon (451) dan Konstantinopel II (553), seperti  tercantum dalam katekismus dan buku pelajaran agama, dan shayadat panjang hari Minggu oleh penulis diyakini bahwa semua itu kurang lebih berpangkal dalam Perjanjian Baru dan Kitab Suci, tetapi nyatanya ada sebuah seleksi unsur-unsur PB yang diperkembangkan.  Data-data PB kemudian dipindahkan dari alam pikiran yang melatarbelakanginya ke alam pikiran Yunani  yang agak berbeda.  Perbedaan itu adalah: dalam Kitab Suci tidak menanyakan apa atau siapa barang atau orang tertentu. K.S menanyakan dan menjawab: apa yang dikerjakan barang atau orang tertentu. Alam pikiran Alkitab adalah “fungsional”. Sebaliknya alam pikiran Yunani menanyakan: apa itu? Siapa orang itu?

            Sehubungan dengan Allah dan Yesus Kristus Kitab Suci menanggapi pertanyaan:Apa yang dikerjakan Allah, mana fungsi, kedudukan dan peranan Yesus Kristus bagi manusia? Alam pikiran Yunani mau menanggapi pertanyaan: Apa itu Allah, siapa sebenarnya Yesus Kristus itu? Nah, Dogma mengenai Allah (Tritunggal) dan Yesus Kristus sebagaimana dirumuskan selama tiga-empat abad pertama itu justru dalam alam pikiran Yunani mengungkapkan:bagaimana adanya Allah, siapakah Yesus Kristus. Misalnya KS menjelaskan bagaimana Yesus berfungsi sebagai Anak Allah, sedangkan dogma menegaskan bahwa Yesus yang berperan sebagai Anak Allah sebenarnya Allah-anak.

            Maka untuk meyelami apa yang sesungguhnya dimaksudkan dogma Allah Tritunggal dan Yesus Kristus dan untuk serentak memperkaya dan memperluas dogma itu orang mesti kembali kepada KS, khususnya PB.

D. Kristologi Perjanjian Baru

  • Kristologi berkembang

            Apa yang kita temukan dalam seluruh PB tidak lain dan tidak bukan ialah refleksi generasi Kristen yang pertama (selama ± 50 tahun) atas fenemona Yesus Kristus dari Nazaret. Pangkal seluruh refleksi itu ialah pengalaman sejumlah orang (entah berapa) dengan Yesus dari Nazaret  yang tampil pada bangsa Yahudi (secara teologis: umat Allah) sekitar 30 masehi. Ada sejumlah orang dari dekat menyaksikan Yesus, mendengar pewartan-Nya., mengenal nasib malang-Nya (sebagai “pemberontak” politis di eksekusi oleh instansi pemerintah Roma didukung oleh instansi politis-religius bangsa Yahudi, Sanhedrin). Pengalaman dengan Yesus yang hidup dan mengalami kegagalan tersebut disusul sebuah pengalaman lain pada orang-orang yang sama. Dan pengalaman itu entah bagaimana meyakinkan orang itu bahwa Yesus serta pewartaan-Nya sebenarnya tidak gagal, tetapi setelah lenyap dari panggung sejarah secara definitif Yesus toh tetap berpengaruh dan dengan demikian mewujudkan isi pokok pewartaan-Nya, yaitu apa yang diistilahkan “Kerajaan Allah”, artinya: Allah yang berkuasa guna membawa manusia kepada “keselamatan”; Allah  yang merealisasikan kuasa-Nya sebagai juru selamat manusia. Disadari juga secara definitif bahwa Yesus dari Nazaret bukanlah seorang tokoh politis, sosial,  atau ekonomis, melainkan seorang tokoh religius, yang pertama-tama berperan dalam relasi manusia dengan Allah dan sebaliknya. Yang lai-lain hanya akibat, implikasi dari peranan religius tu.

            Berpangkal pada seluruh pengalaman di atas generasi pertama umat kristen berusaha “mengerti”, mengartikan, menginterpretasikan fenomena Yesus dari Nazaret itu, baik selagi hidup di dunia maupun sesudahnya. Untuk menginterpretasikan Yesus itu generasi  Kristen pertama  terpaksa memanfaatkan sarana, kategori pemikiran yang tersedia baginya. Mula-mula mereka memanfaatkan-seperti dibuat oleh Yesus sendiri-kategori dari alam pemikiran religiusYahudi yang pada gilirannya berpangkal pada Perjanjian Lama. Tetapi kemudian- tidak lama setelah refleksi dimulai- mereka juga menggunakan kategori-kategori dari alam pikiran religius Yunani. Dan Yesus mau tidak mau juga  harus memanfaatkan alam pikiran dan bahasa religius yang lazim di kalangan Yahudi Palestina di zaman itu.

            Kita juga perlu menyadari bahwa generasi kristen pertama bukanlah sekelompok orang yang homogen dan tidak ada sebuah instansi yang “mengatur” semuanya. Masyarakat Yahudi di masa itu juga secara religius amat heterogen dan ketidakseragaaman yang diwarisi umat Kristen itu hanya ditambah besar waktu kekristenan mulai merambat  di dunia Yunani yang juga  majemuk. Karena itu tidak heran generasi kristen pertama coba menginterpretasikan fenemone Yesus  dan mengungkapkan keyakinan jauh dari seragam dan mengalami perkembangan yang pesat sekali.  Sehingga muncul pula interpretasi dan macam-macam pengungkapan yang tidak selalu dapat diperdamaikan satu sama lain.

  • Jadi melalui karangan-karangan yang terkumpul  dalam PB umat Kristen perdana dengan

pelbagai cara mengungkapkan keyakinannya, interpretasi yang serba yang majemuk tentang Yesus Kristus dan hal ihwal-Nya. Dan bagi umat Kristen selanjutnya karangan-karangan itulah yang menjadi sarana dasariah guna mendekati Yesus Kristus sebagai sasaran kepercayaan Kristen. Dalam rangka kristologi itu pun turut diungkapkan keyakinan umat Kristiani perdana tentang Allah (PL dan Keyakinan umat Yahudi).

            Sebagai sarana pengungkapkan antara lain diapakai cerita-cerita, seperti ditemukan dalam keempat karangan yang disebut “kitab Injil”. Dalam kisah itu pun disajikan sejumlah wejangan. Dalam keempat Injil orang menemukan pandangan menyeluruh tentang Yesus dan hal ihwal-Nya.hanya dalam keempat Injil itu masih dapat ditemukan pelbagai tahap dalam perkebangan refleksi umat Kristen terhadap Yesus, yang ditempuh sebelum membeku dalam karangan-karangan itu. Baiklah di sadari terus bahwa karangan berupa Kisah para Rasul  bukanlah sebuah laporan tentang masa lampau, melainkan berupa pewartaan dan katekese yang mengungkapkan keyakinan, interpretasi umat Kristen tentang peristiwa Yesus.

            Dalam karangan-karangan yang terkumpul dalam PB orang menemukan puluhan “gelar” yang diberikan kepada Yesus. Melalui gelar dan julukan itu umat Kristen mengungkapkan interpretasnya terhadap Yesus dan hal ihwal-Nya.  Sebagaimana sudah dikatakan bahwa gelar-gelar itu semua hasil pinjaman, entah dari alam pikiran religius Yahudi entah dari alam pikiran Yunani. Tidak ada satu pun gelar, julukan ciptaan umat Kristen.

            Ada serangkaian gelar tradisional yang diberikan kepada Yesus: Hamba Allah, nabi, utusan, Anak Manusia Gambar Allah. Gelar yang paling lazim adalah: Kristus (Mesias) dan Anak Allah atau Anak , bahkan (Anak) Tunggal. Banyak gelar yang kemudian hilang dari pemakaian, sedangkan Anak-Allah terus dipakai dan semakin menonjol. Gelar Anak-Allah dari awal sampai akhir tetap konsisten. Melalui Gelar ini terungkap relasi khusus dengan Allah, tetapi bagaimana persis relasi itu kabur.

            Ada juga gelar yang mengungkapkan relasi antara Yesus dengan manusia (percaya), misalanya: pokok keselamatan, gembala Agung dll. Gelar yang paling lazim adalah Tuhan. (Yunani: Kyrios, Aranya: Mara, Ibrani: adonai).  Gelar ini agak kabur. Selalu terungkap di dalam suatu superioritas tokoh yang diberi gelar itu. Jadi, bila kita menyebut Yesus “Tuhan” begitu saja orang belum juga tahu apa persis isi gelar itu, di mana terletak superioritas Yesus Kristus.

Ada satu gejala penting sehubungan dengan gelar “Tuhan” itu dan yang hanya terdapat dalam rangka Alkitab. Nama diri Allahnya Israel ialah Yahwe. Nama diri itu dalam terjemahan Yunani PL dialibahasakan  (tidak diterjemahkan) dengan gelar Tuhan itu. Gelar Tuhan sebenarnya  menjadi gelar khusus dari Allah dan semacam nama diri Allah. Gelar ini kemudian diambil-alihkan begitu saja dalam PB kepada Tuhan Yesus.

            Banyak gelar yang dipakai PB untuk mengungkapkan relasi Yesus dengan Allah dan sebaliknya, serta relasi Yesus dengan manusia mau menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada satupun  gelar yang dapat mengungkapkan segala sesuatu dan yang seluruhnya kena dan adekuat. Gelar-gelar itu saling mengisi, saling melengkapi dan saling mengoreksi. Semua gelar itu sebenarnya mau mengungkapkan apa yang dilakukan oleh Yesus.

E. Dua Kristologi

  • Kristologi dari bawah.

            Kristologi dari bawah berarti  refleksi eksistensial umat beriman sekitar Yesus Kristus berpangkal pada pengalaman dengan Yesus selagi hidup di dunia. Yesus dialami sebagai manusia ditengah manusia lain dan Ia mengalami nasib buruk seperti yang didapat menimpa manusia fana. Jadi jalan pemikiran dari bawah itu seolah-olah naik dari bawah (manusia) ke atas (Allah). Kristologi dari bawah itu sepenuh-penuh-Nya dapat mengevaluasikan manusia Yesus serta hal ihwal-Nya. Ternyatalah Yesus secara menyeluruh manusia, meskipun bukan manusia biasa saja.

  • Kristologi  dari atas

            Pemikiran ini menempuh jalan terbalik, yaitu dari Allah kepada manusia. Bukanlah manusia yang menjadi ilahi, melainkan Allah yang menjadi manusiawi. Jadi pemikiran berpangkal pada Allah kemudian  sampai kepada Yesus dari Nasaret.  Allah yang Mahaesa dari PL melalui dan dalam Yesus Kritus mendekati manusia dan memasuki situasi dan keadaan manusia.  Maka muncul pemikiran bahwa sebenarnya Yesus sebelumnya sudah ada pada Allah.

            Tetapi kristologi dari atas agak berbau mitologi dan agak sukar menampung pengalaman bahwa Yesus dari Nazaret sungguh-sungguh manusia yang benar-benar menempuh dan mengalami hal ihwal manusia, terutama benar-benar mati, dieksekusi di salib

  • Saling melengkapi.

            Kita boleh bersyukur karena PB memuat kedua kristologi di atas. Kedua kristologi ini berhadil mengungkapkan seluruh keyakinan dan iman kepercayaan umat Kristen tentang Yesus. Kedua kristologi ini saling melengkapi, entah nanti dalam penghayatan nanti tekanan bisa tergeser diletakan pada kristologi yang satu dan  atau kristologi yang lain. Dalam sejarah selanjutnya terutama dalam kristologi dari atas mulai diperkembangkan. Dogma kritologi masih mempertahankan kedua pendekatan itu, tetapi tekanan pada ciri ilahi Yesus Kristus. Nanti pada abad XX ini barulah tekanan mulai bergeser dari kristologi dari atas kepada kristologi dari bawah. Tidak dapat disangkal bahwa kristologi dari atas mulai disangkal sama sekali.

F. Kristologi dan Teologi: Allah Tritunggal.

            Kita tidak bisa menghindari kenyataan bahwa refleksi umat kristen atas Yesus Kristus mempengaruhi juga pemikirannya tentang Allah, teologi kristen

  • Monoteisme Perjanjian Baru.

            Dalam hal “hal  teologi”  umat kristen semula tampil dalam rangka agama Yahudi dahulu, kemudian berkembang dalam kerangka kebudayaan Yunani. Agama Yahudi di zaman PB mempertahankan suatu monoteisme mutlak dan menolak baik politeisme  maupun deisme. Hanya ada satu Allah yang terus aktif di dunia dan dalam terutama dalam sejarah. Konsep Allah dalam PL dan agama Yahudi  adalah suatu konsep dinamis. Allah dinamis dan transenden itulah yang menjadi sasaran iman kepercayaan dan terlebih sasaran pengharapan, andalan umat Israel/Yahudi yang percaya. Karena Allah telah menghantar mereka keluar dari Mesir, dari rumah perbudakan, dan secara mutlak akan meraja atas dunia semesta dan seluruh umat manusia.

            Monoteisme dinamis Israel diambil alih oleh umat Kristen semula. Hanya berdasarkan pengalamannya dengan Yesus Kristus- dari awal sampai akhir- dan berdasarkan refleksi atas pengalaman itu umat Kristen memodifasikkan monoteisme dinamis itu. Kedudukan dan kerangkan peranan Yesus Kristus mesti dipasang dalam kerangka monoteisme tiu. Maka tindakan dasariah Allah, Juru Selamat tidak lagi: mengantar umat Israel keluar dari Mesir, melainkan: Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati dan meninggikan-Nya menjadi Tuhan dan Kristus. Ia pun telah mengutus Yesus sebagai penyambung lidah. Dengan membangkitkan dan meninggikan Yesus Allah sebenarnya sudah mulai “meraja”  dan secara mutlak, tak terbatalkan “berkuasa” atas umat manusia demi keselatamatannya.

  • Trinitaris Dinamis/ekonomis

            Adapun Allah Mahaesa yang dinamis dalam relasinya yang khusus dengan manusia disebut Bapa. Malah dalam PB kata “Allah” (Theos) kerap kali searti dengan “Bapa” (pater). Gelar itu dikhususkan untuk Allah, sehingga Yesus dan Roh Kudus tidak pernah disebut Bapa.  Juga dalam relasi khusus dan tunggal antara Yesus dan Allah, Allah digelari “Bapa”. Muncul ungkapan: Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Ini pun menjadi semacam gelar Allah yang khusus. Gelar itu berarti bahwa Allah dalam dan melalui Yesus secara dinamis menjalin hubungan dengan manusia percaya, yang mengakui Yesus sebagai “Tuhan (kyrios-penguasa).  Sekaligus terungkap pula ketergantungan Tuhan Yesus kepada Allah Bapa. Ketergantungan itu terungkap dalam gelar “Anak Allah/Bapa”. Untuk membedakan relasi Yesus dengan Allah dengan relasi manusia lain dengan Allah (Bapa) Yesus diberi gelar khusus, yakni: Anak Yang Tunggal. Adapun relasi dinamis antara Yesus dengan Allah-Bapa tidak lain dari roh ilahi, yang menciptakan Yesus dalam relasi khusunya dengan Allah-Bapa, yang terus menjiwai Yesus selama eksistensi-Nya di dunia, yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati.

            Maka dalam pandangan kristen yang terungkap dalam dalam PB tampil semacam “trinitaris” Tritunggal ilahi. Ada Allah, pangkal dan tujuan segala sesuatu, yang dalam relasi-Nya itu disebut Bapa. Ada Yesus Kristus, seorang manusia yang ditinggikan, yang karena relasi (dinamis) khusus dengan Allah diberi gelar Anak (Tunggal) dan karena itu mempunyai ciri ilahi. Dan ada Roh Kudus, dinamika ilahi yang dengan-Nya Allah (Bapa) secara dinamis hadir dlam yesus Kristus dan seluru eksisten-Nya, dahulu dan sekarang; dan dalam ketergantungan pada Yesus Kristus Roh Kudus, dinamika ilahi tetap aktif hadir di dunia dan dalam manusia sehingga Allah dan Yesus Kristus benar-benar berkuasa dan mempersatukan manusia berkat roh kudus itu baikdengan Yesus Kristus maupun dengan diri Allah.

            Jadi Trinitaris yang tampil dalam PB jelas suatu trinitaris dinamis. Para  teolog berkata tentang “Trinitaris ekonomis” berarti terwujud dalam tata (dan sejarah) penyelamatan. Ketiga faktor, unsur, pemeran yang tampil dalam tata (sejarah) penyelamatan mempunyai ciri ilahi dan sejauh itu satu.  Namun jelas Allah Bapa, Yesus Kristus, Anak-Nya dan Roh Kudus tidaklah satu dan sama saja dan masing-masing mempunyai kedudukan dan peranannya sendiri.

II. KRITOLOGI DAN ALLAH TRITUNGGAL II

Refleksi dalam konteks masyarakat Indonesia

A. Pengalaman Iman Umat Kristiani dahulu sampai kini.

            Pengalaman iman umat kristiani dari dahulu sampai kini tidak hanya diungkapkan dalam rumus-rumus ajaran, melainkan juga dalam rumusan doa. Dalam prefasi DSA II kta temukan rumus doa sebagai berikut: “sungguh layak dan sepantasnya, ya Bapa yang kudus, bahwa di mana pun juga kami selalu bersyukur kepada-Mu dengan perantaraan Yesus Putera-Mu yang terkasih. Dialah sabda-Mu; dan dengan sabda itu Engkau telah menciptakan segala sesuatu. Dialah pula yang telah Kauutus kepada kami sebagai  Penyelamat dan penebus. Ia menjadi manusia dengan kuasa Roh Kudus  dan dilahirkan oleh Santa Perawan Maria. Untuk melaksanakan  kehendakmu dan menjadikan kami umat_mu yang suci, ia relah merantangkan tangan di kayu salib supaya belenggu dosa dipatahkan dan cahaya kebangkitan dipancarkan”.

            Kita dapat mengucapkan rumus doa ini karena kita percaya, karena kita mempunyai pengalaman iman. Pengalaman iman kita berbeda dengan pengalaman para Rasul da orang-orang Yahudi, yang secara fisik dapat melihat, mendengarkan dan menjamah Yesus. Pengalaman kita adalah pengalaaman akan Roh Kudus. Dalam Roh kudus itu kita percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah. Melalui Yesus kita sampai kepada Allah, Bapa Tuhan kita yesus Kristus dan Bapa kita. Namun untuk sampai pada pemahaman seperti itu, kita perlu berangkat  dari pengalaman asli kita di Indonesia, supaya kita boleh mengerti sesuatu sesuai dengan keadaan kita yang konkret; kita memandang pengalaman religius kita, agar kenyataan kabar gembira, injil  Yesus semakin nampak dan semakin kita rasakan.

b. Peristiwa Yesus Kristus Membuka Rahasia Allah dan Rahasia Manusia: Peristiwa Pewahyuan

            Apakah arti Yesus kristus yang kita imani bagi kita yang hidup dalam kebudayaan   yang konkret, situasi yang konkret di Indonesia ini?  Kita coba memahami dengan berangkat dari tradisi kristiani, terutama yang terungkap dalam KS.

  • Semua melawan satu: kambing hitam unik bagi dunia.

            Masyarakat Yahudi pada zaman Yesus hidup dalam suatu konstruksi keseimbangan dari bermacam-macam kekuatan. Pertama-tama adalah penjajah Roma yang mengusai tanah dengan kekuatan militer. Kedua adalah kelompok Herodes yang mempunyai interese kelangsungan dinasti Herodes. Kelompok ketiga yaitu gerakan revolusioner (Kaum Zelot) yang karena alasan-alasan religius (ingin mempercepata kedatangan kerajaan Allah) mau mengusir penjajah Roma. Lalu kelompok keempat ialah kaum saduki  dan para pegawai negara Yerusalem yang kehidupan ekonominya terjamin oleh kuasa atas Bait Suci dan oleh kuasa penjajah. Selain itu ada juga kelompok kaum Farisi  yang sangat menjunjung tinggi hukum dan tradisi lisan dan mempunai cukup pengikut di tengah rakyat; lalu kaum Essensi yang meninggalkan ibadat resmi di Bait Suci, hidup dibawah hukum ketat, menantikan akhir dunia. Meskipun kelompok- kelompok biasanya  saling bermusuhan, namun mereka bersatu menolak Yesus. Tanpa persetujuan entah terbuka atau tertutup antara kaum Farisi, Saduki, dan Zelot hampir tidak mungkin Yesus dihukum mati; dan bahkan kaum Esseni pun hampir tidak mungkin mendukung “Pelanggar” hukum sabat itu.

            Bagaimana Persekongkolan melawan Yesus itu berkembang Injil memberitahukan bagaimana di Galilea terutama orang-orang Farisi melawan Yesus (Mrk 2:7); mereka memutuskan untuk membunuh Yesus (mrk 3:6). Orang Farisi kemudian bersekongkol dengan para pengikut Herodes.

            Situasi menjadi lebih ketika Yesus berada di Yerusalem untuk terakhir kalinya. Mulailah kaum  Saduki melawan Yesus (bdk. Mrk 11:15-17; Mrk 11: 27-12:9)-merupakan alsan pokok bgi para pemimpin  Yerusalem untuk melawan Nabi Galilea itu (mrk 11:18;12:12). Injil Sinoptik memberitahukan bahwa dua kelompok Saduki dan Farisi mencari kesempatan untuk membinasakan Yesus (Mrk 11:18; Mat 21:45-46; Luk 19:47; 20:19). Namun maksud ini tidak mudah dilaksanakan karena banyak rakyat yang memuja Dia. Karena itu para pemimpin takut teran-terang melawan Dia (mrk 12:12). Lalu imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari jalan lain untuk membunuh Dia. Dan waktu perayaan paskah itulah Yesus ditangkap, tentu saja atas penghianatan Yudas (mrk 14:1-2).

            Bagaimana keadaan rakyat?  Sulit memikirkan bahwa massa rakyat yang sama, yang bersorak-sorai ketika Yesus masuk ke Yerusalem, beberapa hari kemudia sangat menginginkan penyaliban Yesus. Pemimpin justru takut kepada rakyat. Namun diberitakan bahwa rakyat punya peranan dalam penyaliban Yesus. Kita coba memahami bahwa ketika para pemuka membawa Yesus kepada Pilatus mereka secara kebetulan menemukan sejumlah rakyat yang dapat diajak untuk  menuntut pembebasan Barabas. Tentang masalah ini kita tidak menemukan suatu kepastian historis. Meskipun demikian injil melihat wakil-wakil  seluruh rakyat dalm macam-macam kelompok ikut ambil bagian pada penolakan Yesus. Injil menekankan kebersamaan: mereka semua berseru,”Ia harus disalibkan!” (Mat 27:22) dan lagi, Biarlah darah-nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami” (27:25).

            Pernyataan-pernyataan di atas tidak berarti bahwa semua orang bertanggung jawab secara pribadi  atas penyaliban Yesus, Misalnya Yosef Arimate,”tidak setuju dengan putusan dan tindakan Mejelis itu… (Luk 23:51). Namun, tendensi Injil cenderung untuk melepaskan tanggung penyaliban Yesus kepada seluruh Israel menyangkut suatu pernyataan teologis yang dasariah, yakni bahwa roh/kuasa kejahatan sama, kecenderungan untuk kebohongan dan kekerasan ada pada semua orang. Sejauh ro/ kuasa yanga sama berdaya efektif dalam semua orang, maka semua orang melawan Dia.

  • Satu untuk semua: keselamatan merupakan pertukaran yang menakjubkan.

            Di antara banyak teks Perjanjian Baru terdapat satu pernyataan sangat padat yang dapat merupakan kunci untuk teologi kambin hitam; di situ problematik kebutaan kolektif dan pengatasannya dijadikan tema. Pernyataan tersebut adalah,”Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru”. (Mrk 12:10). Dalam isi perumpamaan-perumpamaan tentang tukang bangunan kita  bisa melihat tiga hal penting: 1). Pernyataan Yesus sebagai Anak terkasih. 2) pertikaian-Nya dengan musush-musuh penuh kekerasan. 3)  pengutusan-Nya dalam rangka tindakan Allah menghadapi orang-orang yang keras hati. Perumpamaan ini merupakan antisipasi atas apa yang akan menimpa Yesus dan an kebutaan kolektif dalam pewahyuan.

            Selanjutnya dikatakan bahwa alasan yang sangat menentukan untuk pembunuhan Yesus adalah: Pengakuan pribadi Yesus sebagai Putera Allah (Yoh 5:16…; 10:30dst; 19:7

Yesus adalah kebenaran  berhadapan dengan kebohongan, cinta berhadapan dengan rivalitas dan kekerasan. Dia memasuki risiko tersebut: Dia tidak membalas kebencian dengan kebencian tetapi menerima diri-Nya dikambinghitamkan dan dibunuh dan dengan demikian memang menyatakan diri sebagai Putera Allah yang benar, batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan mejadi batu penjuru. Kepada Yesus semua menumpahkan kekerasan, melalui kematian-Nya Roh Kudus dianugerahkan. Pembunuhan ditukar dengan kehidupan. Keselamatan merupakan pertukaran menakjubkan.

      Dapatkah peristiwa salib disebut sebagai korban? Surat Ibrani menyebut kematian Kristus sebagai korban, disebut pula pelayanan-Nya sebagai Imam Agung abadi. Bagaimana hal ini bisa dimengerti?  Suatu kesamaan yang tegas antara korban ritual perjanjian Lama dalam tindakan Kristus ialah bahwa darah memainkan peranan yang menentukan. Namun ada juga perbedaan yang besar: imam PL menumpahkan darah yang bukan darahnya sendiri (darah binatang; ibr 9:5; 10:4)),  sedangkan Yesus menyelesaikan tindakan perdamaian dengan membawa darah-Nya sendiri. Jadi, korban (salib) berarti penyerahan diri Yesus sampai konsekuensi terakhir penyerahan diri sehabis-habisnya. Kematian Yesus di salib  bukanlah korban kultis, melainkan seperti kematian nabi-nabi dan orang-orang yang benar yang dikejar-kejar dan dibunuh.

  • Peristiwa Yesus sebagai peristiwa trinitaris.

            Kehidupan yesus dapat dilukiskan sebagai gerak maju menuju salib. Seluruh hidup yesus merupakan eksistensi dalam pengosongan, perendahan, sebagai ketaatan sampai kematian di kayu salib. Dengan demikian kataatan Putera tiak hanya terjadi di kayu salib. Menjadi-Nya manusia adalah ketaataan kepada Bapa. Seluruh hidup-Nya adalah melaksanakan kehendak Bapa dan uncak ketaatan itu memang kematian mengerikan di kayu salib (Flp 2:8).

            Ketaatan Putera kepada Bapa selalu terjadi dalam Roh Kudus. Sebutan Putera Allah erat berhubungan dengan kehadiran roh Allah dalam diri Yesus. Yesus dipenuhi oleh Roh Allah. Kitab Suci memberikan kesaksian Roh Kudus berkarya dalam seluruh karya kehidupan Yesus. Puncak dari semua itu adalah peristiwa kematian di kayu salib sebagai peristiwa Allah menyejarah-itulah peristiwa penyelamatan.

  • Dalam Roh Kudus melalui Yesus Kristus kita beroleh jalan masuk kepada Bapa: sejarah kebebasan Allah, kebebasan Yesus dan kebebasan kita.

            Dalam KS kita temukan Allah (Bapa) sebagai yang mengutus Putra utuk mewahyukan dan menyelamatkan dunia (Yoh 3:17). Bapa mengutus Roh Kudus  (Yoh 14:26)., begitu pula Putera (Yoh 15:26; 16:7). Roh kudus diutus untuk mengajarkan sesuatu kepada para murid dan mengingatkan para murid akan semua yang telah dikatakan  Yesus kepada mereka (yoh 14:26; 16:14).

            Bapa adalah Pangkal, Perencana yang dengan bebas telah mengambil inisiatif penyelamatan, mengadakan ikatan rahmat. Begitu besar cinta Bapa  sehingga Ia menganugerahkan Putera-Nya yang tunggal dan dan bersama Dia serta melalui Roh-Nya. Yesus menjawab pengutusan Bapa dengan ketaatan penuh. Di sini kita melihat seberapa besar cinta, kebebasan Putera sehingga Ia mau menyerahkan  hidup bagi kita. Yesus menjadi perantara kita kepada Bapa.

            Kalau ditakatakan bahwa Roh Kudus tinggal di dalam diri kita, Roh itu adalah Roh Bapa dn Putera. Dalam Roh Kudus Putera tinggal juga dalam diri kita. Begitu pula dalam Roh Kudus melalui Putera Bapa tinggal dalam diri kita. Tindakan Allah yang bebas memberi diri kepada manusia sangat menghormati kebebasan manusia sampai konsekuensi yang paling akhir.

  • Kegembiraan Yesus Kristus sekarang ini di sini

            Kita mengakui dan menerima Yesus sebagai Kristus, Anak Allah, Juru Selamat karena kesaksian iman gereja dan karena kesaksian Roh Kudus. Kesaksian gereja yang kita lihat dan dengar, sampai kepada kita ang sdah selalu dipengaruhi oleh karya Roh Kudus.  Pengalaman iman kristen adalah pengalaman dihubungi oleh Allah sekarang ini, dalam kebudayaan dan situasi yang konkret  di sini. Karena pertemuan kita dengan Kristus inilah yang membuat kita berani menyapa Allah:Bapa tercinta.

            Iman kristiani didasari oleh pribadi Kristus dan iman para rasul. Maka pengalaman iman kristiani yang dikomunikasikan oleh Gereja tidak bisa terlepas  dari kesaksian para rasul, yang terungkap dalam kitab Suci dan dihayati oleh Gereja sepanjang masa sampai saat ini. Komunikasi iman kristiani menyangkut kegiatan komunikasi iman aktual kita sekarang ini dengan tradisi iman rasuli. Dari kegiatan komunikasi ini diharapkan muncul pemahaman dan raha keterlibatan baru. Dengan demikian iman hidup dan berkembang.

III. PROSES INKULTURASI

A. Setia Kepada Injil dan Yesus Kristus

            Inkulturasi  merupakan suatu proses yang terjadi kalau umat berusaha mengerti dan menghayati Injil Yesus Kristus.  Pusat  perhatian umat tertuju pada upaya  kita mengerti dan menghayati Injil Yesus Kristus di sini, sekarang ini”. Karena itu yang menjadi pertanyaan pokok adalah: Apakah umat berusaha setia kepada Injil Yesus Kristus dalam situasi dan tantangan  konkret yang dihadapi?

B. Istilah dan Masalah Inkulturasi

            Inkulturasi digunakan secara resmi dalam dokumen Gereja tahun 1977, yaitu sinode para uskup di Roma mengenai katekese, yang mengeluarkan  naskah  terakhir “Pesan kepada umat Allah”. Inkulturasi dimaksudkan sebagai proses umat setempat menghayati Injil Yesus Kristus dalam situasi dan kebudayaan setempat.

            Dalam rapat sinode P. Arrupe SJ berbicara mengenai katekese dan inkulturasi. Menurutnya inkulturasi terjadi kalau hdiup beriman digerakkan sungguh-sungguh oleh Roh Kudus menjadi pelayan Injil. Yesus Kristus adalah Juru Selamat bagi semua orang dengan semua kebudayaan mereka. Inkulturasi merupakan dialog terus menerus antara Sabda Allah dengan manusia dalam banyak segi dan cara kehidupannya. Inkulturasi merupakan wujud nyata hidup dan pesan kristiani dalam suatu lingkungan budaya yang ada. Hal nampak dalam keterbukaan Gereja terhadap bermacam-macam budaya. Gereja tidak lagi memandang  diri sebagai penderma agung, yang menyampaikan kebenaran-kebenaran kepada dunia, melainkan juga sebagai penerima. Budaya-budaya yang mendengarkan pewartaan mengenai Yesus turut memperkaya Gereja. Jadi, inkulturasi adalah usaha untuk mengerti dan memahami Injil tidak hanya dalam kebudayaan tertentu yang mengawang, melainkan dalam situasi konkret, di mana umat setempat hidup dan prihatin akan  masalah-masalah hidup bersama dalam masyarakat.

C. Dasar dan Arah Inkulturasi: Mengikuti Dinamika Karya Allah

            Kalau dicari dasar  usaha inkulturasi biasanya lalu dipikirkan inkarnasi, sabda Allah menjadi manusia. Namun hal ini belum cukup.  Pusat pengalaman kristiani tidak boleh dilupakan, yakni Yang telah disalibkan bangkit;  seperti Putera Allah mengambl darah dan daging manusia, masuk dalam kebudayaan tertentu, demikian pula Injil, kabar gembira penyelamatan mesti masuk dalam kebudayaan, menjadi satu dengan kebudayaan tersebut.

            Yang menjadi dasar usaha inkulturasi adalah Roh Kudus. Roh Kristus hadir dan berkara, yang menghidupkan umat Allah. Roh kudus itu pula yang membuka mata dan hati kita untuk kehadiran Yesus Kristus, Juru Selamat untuk semua orang, semua kebudayaan. Karena itu kegembiraan dan harapan, duka dan kecemesan menusia dewasa ini, terutama yang miskin dan terlantar, adalah kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan murid-murid Kristus pula.

D.Usaha Inkulturasi Dalam Fungsi-Fungsi Dasariah Gereja: Umat Beriman Bergerak

             Masalah inkulturasi adalah masalah umat setempat yang berusaha mengerti dan menghayati Injil, kabar gembira penyelamatan Yesus Kristus. Usaha inkulturasi dapat dilukiskan dalam empat fungsi dasariah: (a) dalam persaudaraan umat, (b) yang mewartakan Injil, kabar gembira penyelamatan Yesus Kristus, (c) dan merayakan penyelamatan itu, (d) serta melaksanankan dalam pelayanan.

1. Pengalaman kristiani yang mendalam terjadi dalam persekutuan, dalam persaudaraan (koinonia).

            Jemaat Kristen awal hidup sehati-jiwa, segala sesuatu kepunyaan mereka bersama, mereka memberi kesaksian pesekutuan-persaudaraan. Saling mengasihi di antara para murid Yesus merupakan kesaksian yang dikehendaki Guru mereka:”Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pun kamu harus saling mengasihi.dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku (Yoh 13:34-35).

            Roh kudus hadir, mempersatukan orang satu sama lain. Roh yang satu dan sama memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya, kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama (lih Ikor 12:1-11).

            Setiap orang membutuhkan pengalaman persaudaraan, pengalaman diterima dan menerima orang lain dalam kelompok. Pengalaman persaudaraan yang mendalam terjadi dalam kelompok-kelompok kecil itu para anggota tidak merasa anonim, melainkan dikenal dan mengenal saudara-saudarinya.

2. Pewartaan Injil (kerygma).

            Pewartaan perlu diwartakan kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus, maupun pewartaan terus-menerus kepada orang beriman. Mewartakan kabar gembira  penyelamatan Yesus Kristus bukan hanya soal memberikan informasi, melainkan memberikan kesaksian. Memberikan kesaksian kepada orang mengandaikan pengalaman pernah ada di sana. Memberi kesaksian eksplesit dengan kata bukanlah hanya berbicara kepada, melainkan berbicara dengan orang-orang dalam situasi serta keprihatinan yang konkret, dalam kebudayaan tertentu. Berbicara dengan mengandaikan kemampuan dan kesanggupan mendengarkan masalah-masalah dan keprihatinan yang ada , baik yang diucapkan maupun yang tersembunyi.

3. Ibadat, Perayaan iman (Leitourgia)

            selanjutnya dalam liturgi umat merayakan warta penyelamatan Yesus Kristus yang telah diterima dan diimani. Itulah memoria Iesu,  kenangan penuh syukur atas tindakan penyelamatan Allah  melalui Yesus Kristus. Umat berkumpul merayakan persekutuan mereka melalui Yesus Kristus; mereka berdoa demi nama Yesus Kristus.

            Doa bersama demi nama Yesus Kristus hanya dapat terjadi dalam Roh Kudus. “Tidak ada seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Allah terkutuklah Yesus!’ dan tidak ada seorang pun yang dapat mengakui:’Yesus adalah Tuhan’, selain dari oleh Roh Kudus.” (I Kor 12:3). Di sini kita melihat orang menyadari bahwa Yesus Kristuslah satu-satulah yang menentukan; dari Dia mereka hidup, percaya, berharap dan mencinta. Waktu jemaat Kristiani berdoa bersama demi nama Yesus yang mereka ikuti, Allah mendengarkan, mengabulkan doa mereka dan memenuhi mereka dengan Roh Kudus. (kis 4:13).

4. Pelayanan (diakonia)

            Persaudaran kita dalam Kristus dan diungkapkan dalam doa  bersama tidak bersifat  tertutup dan puas diri melainkan selalu terbuka untuk turut terlibat dalam pengutusan Yesus di dunia yang secara ringkas dilukiskan oleh Penginjil Lukas,”Roh Tuhan ada di atas-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin;… (Luk 4:19-20). Pelayanan kita kepada orang lain digekan oleh Roh yang satu dan sama dengan Roh yang memenuhi Dia, yang datang tidak untuk dilayani melainkan untuk melayani, yang membasuh kaki para murid sebagai tindakan perendahan diri, tindakan yang menunjuk penyerahan diri secara radikal di kayu salib. Hidu sebagai pelayan adalah hidup yang sedia berada di mana yang melayani berada. Yang dilayani adalah Allah, yang sedang menyelamatkan orang-orang; yang dilayani adalah orang-orang yang membutuhkan penyelamatan.

E. Inkulturasi: iman umat aktual-iman rasuli

            Yang berusaha mengerti menghayati Injil Yesus Kristus adalah umat  yang secara jujur bergulat, karena inkulturasi ditentukan oleh gerak umat. Inkulturasi adalah pergulatan kreatif umat setempat untuk menghayati hidup sebagai ciptaan baru  dalam hubungan dengan Kristus yang hidup.

            Pergulatan kreatif tersebut selalu mengundang komunikasi iman aktual umat, yang berada dalam situasi dan kebudayaan konkret dengan kesaksian iman rasuli, yang  pertama-tama terungkap dalam  Kitab Suci dan dihayati  oleh Gereja sepanjang masa sampai saat ini. Dalam pergulatan itu Injil penyelamatan Yesus Kristus  menjadi hidup. Injil tidak hanya meneguhkan, melainkan juga mengkritik kebudayaan manusia manapun juga. Kabar gembira mengundang untuk bertobat dan memasuki hidup baru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *