Kebebasan Menurut Jean-Paul Sastre (1905-1980)
By leonardus.ansis / May 3, 2022 / No Comments / Leonardus, Makalah, Paper, Ringkasan Buku, Tugas Kuliah
Pendahuluan
Kebebasan adalah hal mendasar dari manusia. Kebebasab merupakan kuasa luhur yang dimiliki manusia. Akan tetapi kuasa yang luhur ini juga membahayakan manusia itu sendiri. kebebasan yang melekata pada manusia itu bisa menghantar dan menuntun manusia kepada kebaikan tetapi bisa juga menuntut manusia kepada hal yang jahat. Nah, menjadi pertanyaan bagi kita apa yang dimaksud dengan kebebasan? Ada berbagai pendapat yang dikemukakan tentang pokok ini, yang kadang masih menimbulkan problem di antara para ahli sendiri. Meskipun demikian dalam tulisan ini kami ingin memperdalam pandangan Jean-Paul Sastre tentang kebebasan itu sendiri.
Jean-Paul Sastre lahir dalam tahun 1905 sebagai Putera dari Jean-Batiste, seorang perwira Angkatan Laut Perancis, dan Anne Marie Schweitzer.
Kebebasan menurut Sastre
Sastre mengatakan bahwa setiap orang dapat saja menjadikan dirinya sesuai dengan apa yang dipikirkan atau dikehendakinya. Tapi yang sesungguhnya menjadi tesis paling dasar dari Sastre ialah bahwa manusia mempunyai martabat yang lebih luhur dari sebuah batu atau sebuah meja. Keluhuran terletak pada kehidupan subyektifnya. Berarti bahwa manusia adalah sesuatu yang menggerakkan dirinya sendiri menuju suatu masa depan dan yang sadar bahwa ia bertindak demikian. Dengan ini Sastre sebetulnya ingin membedakan dua cara berada yang ia sebut “ada pada dirinya” (being in-itself) dan ada bagi dirinya (being for-itself). “Ada pada diri” bersifat tertutup, pasif, statis dan tanpa kesadaran. Sedangkan, “ada-bagi dirinya” bersifat terbuka, dinamis, dan dengan kesadaran subyektif. Jadi, bagi Sastre manusia tidak hanya menciptakan sejarahnya sendiri (=diri-nya), melainkan pula bahwa setiap manusia bertanggung jawab eksistensinya. Sebab bagi Sastre apabila manusia hanya berada atas salah satu cara entah “ada pada diri” atau “ada bagi dirinya”, maka hal itu tidak mungkin terjadi, karena apabila manusia hanya berada atas salah cara saja maka manusia akan mengalami keputusasaan.[1]
Bagi Sastre manusia bebas, manusia adalah kebebasan. Perkataannya yang sudah menjadi klasik: Manusia dihukum untuk menjadi bebas (Man is condemned to be free). Manusia “dihukum”, karena ia menemukan dirinya terlempar ke dalam dunia, tapi masih bebas karena segera setelah ia sadar akan dirinya, ia bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang dilakukannya. Sastre menolak pandangan bahwa prilaku manusia sama sekali digerakkan oleh gejolak-gejolak emosi atau gairah secara mekanistis, walaupun dalam kasus-kasus tertentu hal semacam itu dapat terjadi. Ia juga menolak analisis Freudian tentang prilaku manusia, karena analisis menyajikan alasan yang menguatkan adanya determinisme psikologis, di mana manusia menyembunyikan kebebasan mereka dengan berbagai tipu muslihat.[2] Menurut Sastre, manusia sepenuhnya bertanggung jawab, bahkan terhadap alam rasanya, karena perasaannya justru dibentuk oleh perbuatannya sendiri. kebebasan itu dahsyat dan menakutkan, karena kebebasan berarti tidak ada sesuatu yang menyangga atau menguatkan subyek dari belakang. Dalam kebebasan si subyek berprilaku atas cara apapun, tanpa suatu pola yang secara persis mengingat dan mengarahkan ke masa depan. Dalam kebebasan, satu-satunya hal yang ada ialah eksistensi subyek.
Karena itu tidak heran jika Sastre mengatakan: kita sama sekali bebas, karena itu kita harus memilih. Tidak ada aturan-aturan dari moralitas umum yang dapat menunjukkan kepada kita apa yang harus kita lakukan. Tidak ada pedoman dasar yang menjamin kita dalam dunia. Semuanya harus kita pilih atau tentukan berkat kebebasan.
Bagi Sastre manusia bebas, manusia adalah kebebasan. Manusia dihukum untuk menjadi bebas (Man is condemned to be free). Demikian uraian singkat kami tentang kebebasan menurut Jean- Paul Sastre.
[1] Bdk. Frederik A. Dlafson, Sartre, Jean-Paul. Dalam The Encyclopedia of Philosophy. Edit by Paul Edwards. Vol VII (New York: Macmillan Reference USA, 1996).
[2]Ibid,.
