DISUSUN

OLEH

ANDREAS  SOAT   RUMATORA

LEO LELYEMIN

YOHANIS ARTS LONDAR

DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAH RAGA

SMU SWASTA DISAMAKAN SANATA KARYA LANGGUR

TAHUN AJARAN

2005-2005

HALAMAN PENGESAHAN

Karya tulis ini telah dilihat dan disetujui

Guru Bidang Studi                                                                                             Pembimbing

Ny. M. Renmeuw                                                                                        Fr. Yono Temorubun

Kepala Sekolah

SMA Sanata Karya Langgur

Bpk. Martinus Mon, S.pd.

NIP: 313

KATA PENGANTAR

            Puji syukur penulis haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas bimbingan dan penyertaanNya kepada penulis melalui berbagai cara, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini.

BAB I

HISTORISITAS DAN MAKNA KEBANGKITAN YESUS KRISTUS

(BAGI YESUS DAN UMAT KRISTIANI)

I. Pendahuluan

            Titik tolak pewartaan Gereja perdana adalah pengalaman para murid Yesus Kristus akan peristiwa kebangkitan Guru mereka, yakni Yesus sendiri.       

            Tentang kebangkitan Yesus, semua Kitab Perjanjian Baru sepakat.  Dalam semua kitab PB, puncak pewartaan ialah bahwa Allah telah membangkitkan Anak-Nya dari antara orang mati (bdk.  1Tes 1:10), dan bahwa para rasul “telah melihat Tuhan” (Yoh 20:25) setelah ia wafat. Yang mereka lihat itu bukan jenazah melainkan Tuhan yang hidup. Keyakinan bahwa Tuhan itu hidup adalah pusat dan batu penjuru pewartaan sebagaimana disampaikan oleh Paulus maupun rasul-rasul lain.

            Nah, dalam tulisan ini kami ingin menulusuri kembali historisitas kebangkitan Yesus sebagaimana yang diwartakan oleh rasul-rasul  supaya dengan melihat nilai dan keyakinan iman mereka, turut membantu orang beriman masa kini untuk lebih memahami nilai dan makna imannya bagi kehidupan masa kini; hidup iman sendiri bisa dipertanggung jawabkan dan maknanya dalam hidup bisa dihayati dalam hidup pribadi maupun bersama-sama dengan umat beriman lainnya. Selain itu, kami ingin mengetahui apa Makna kebangkitan itu sendiri bagi Yesus.

            Oleh karena itu, ada tiga hal yang hendak ditelusuri: histrorisitas kebangkitan Yesus; arti dan makna kebangkitan itu bagi Yesus sendiri; serta makna dan nilai kebangkitan Yesus Kristus bagi kehidupan iman Kristen.

II. Historisitas Kebangkitan

            Dalam bagian historisitas kebangkitan ini kami akan menguraikan warta kebangkitan Yesus menurut Gereja Perdana, kemudian warta kebangkitan menurut keempat Injil serta warta kebangkitan menurut Rasul Paulus.

II.1. Kebangkitan Yesus Kristus Menurut  Gereja Perdana

            Dalam pewartaan Gereja perdana ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan, yakni perwataan itu sendiri; kedua isi perwataan yang menyangkut penampakan Yesus Kristus yang dimuliakan; dan ketiga pewartaan makam kosong sebagai tanda Kristus yang telah bangkit.

II.1.1. Pewartaan  Tentang Yesus Yang Bangkit

                Tulisan Perjanjian Baru menyajikan pewartaan akan Yesus Kristus yang bangkit, suatu kesaksian bahwa kebangkitan Kristus itu berarti bagi keselamatan manusia. Di sini kita melihat bahwa yang menjadi inti pewartaan adalah pengalaman akan Yesus Kristus yang dibangkitkan oleh Allah, setelah mengalami penderitaan dan wafat. Mula-mula dikatakan bahwa Yesus yang dibangkitkan itu harus menderita karena keharusan ilahi (Kis 2:23 bdk. 4:28; 17:5), kemudian dijelaskan nasib malang itu sesuai dengan Alkitab (Kis 3:18; 10:45).[1] Sehingga tidak heran bahwa perwartaan tentang kebangkitan menduduki tempat utama. Dia kamu bunuh, tetapi dibangkitkan oleh Allah”, demikianlah rumus utama yang berulang kali dikedepankan. Pada waktu perhatian umat kristen seluruhnya terarah kepada kepada kebangkitan Kristus, Kristus dipandang mereka sebagai ada, hidup dan bekerja.[2]

            Dengan demikian tekanan pewartaan menjadi jelas, yakni kebangkitan Yesus. Pokok pewartaan Gereja perdana adalah Yesus dari Nazaret yang mati terbunuh, namun oleh Allah dibangkitkan dari alam maut dan dimuliakan.

II.1.2. Kisah PenampakanYesus Yang Dibangkitkan Dari Alam Maut.

                Sebelum menelusuri kisah penampakan itu sendiri, sebaiknya titik tolak pemahaman dijelaskan, berdasarkan Kis 10:40 dan Gal 1:16. Dalam kedua teks itu ditegaskan bahwa penampakan Yesus bukanlah sebuah pengalaman jasmani yang dapat diamati oleh setiap orang, melainkan bagi orang yang secara khusus dipilih Allah sesuai dengan prakarsa-Nya. Penampakan adalah karya Allah semata-mata, bukan sesuatu yang bisa dicari orang.

            Dalam Kis 10:40 dikatakan bahwa Allah membuat Yesus menjadi nyata, bukan kepada seluruh umat melainkan hanya kepada saksi yang lebih dahulu dipilih oleh Allah.Yesus yang dibangkitkan Allah itu menjadi nyata hanya bagi sekelompok orang saja yang ditentukan Allah sebelumnya.

            Dalam Gal 1:16 kita bertemu dengan pembelaan Santo Paulus atas panggilannya sebagai pewarta injil. Ditegaskan bahwa Injil-nya diterima dari Allah. Injil itu ialah Kristus telah bangkit dan menjadi kyrios bagi semua. Dalam ayat ini Paulus mengingatkan peristiwa di perjalanan ke Damsyik dan di situ ditegaskan bahwa Allah berkenan menyingkapkan Anak-Nya kepada dirinya. Pengalaman Paulus jelas merupakan pengalaman batin, dan bukan semata-mata pengalaman lahiriah. Menurut pengalaman ini Paulus dipilih sejak kandungan ibu (Gal 1:15). Jadi, jelas penglihatan itu hanya berlaku bagi orang-orang yang dipilih. Penglihatan itu semata-mata karya Allah.

            Dalam kisah-kisah penampakan ternyata tampak gejala yang amat lahiriah. Yesus makan, minum (Luk 24:41-43; Yoh 21:5.12-13) dapat diraba dan disentuh (Luk 24:39; Yoh 20:27) mempertunjukkan lambung dan tangan (Luk 24:39; Yoh 20:20) bahkan mengantar para murid naik bukit. Harus diakui bahwa dalam kisah-kisah penampakan, hal-hal yang sangat manusiawi belaka, seperti mendengar, melihat belum cukup, musti butuh kekuatan dari Allah untuk menangkap  penampakan Yesus yang mulia itu.

            Gereja perdana yakin bahwa Yesus sendiri secara aktual hidup dan oleh karena itu dibangkitkanlah oleh Allah dari maut. Yesus yang bangkit  itu menjadi “nyata” dalam pengalaman iman. Pengalaman iman itu akhirnya tampak dalam perubahan hidup para saksi yang mengenali Yesus Kristus yang bangkit itu. Maka perubahan hidup tampak dalam saksi-saksi, yang berani mepertaruhkan hidup mereka sepenuhnya demi Yesus Kristus itu, menjadi tanda sejarah kebangkitan Yesus Kristus dalam kemuliaan-Nya.[3]

II.1.3. Makam Kosong

            Kisah-kisah tentang makam Yesus yang kosong, (mat 28:1.5-7; Luk 24:1-11; Mrk 16:1-8; Yoh 20:1-10. 11-13) mempunyai peranan yang kurang lebih sama dengan kisah penampakan Yesus yang bangit dalam pewartaan Gereja Perdana. Apa yang hendak diungkapkan dalam kedua bentuk kisah  itu ialah keyakinan bahwa Allah telah membangktikan Yesus dari alam amut. Hal itu bukan  karena keinginan para murid, melainkan karena prakarsa Allah.

            Kisah makam kosong adalah pewartaan yang berkembang dalam situasi tertentu, untuk mengungkapkan pengalaman dasar: Yesus Kristus dibangkitkan oleh Allah. Penampakan dan makam yang kosong jelas menjadi wahana proklamasi bahwa Yesus dibangkitkan oleh Allah dari alam maut. Kejadian kebangkitan Yesus sendiri merupakan pengalaman batin orang-orang yang menjadi saksinya. Mereka yakin bahwa Yesus dibangkitkan oleh Allah sehingga mereka mempetaruhkan keadaan itu sebagai kenyataan yang menentukan hidup mereka.[4]

            Secara historis dapat dipastikan bahwa tradisi tentang makam yang kosong itu baru timbul sesudah kepercayaan para murid akan kebangkitan Yesus. Namun, kita harus berkesimpulan bahwa makam kosong bukanlah bukti kebangkitan Yesus melainkan praandaian.

III. Kisah Kebangkitan Menurut Keempat Injil

                Kisah kebangkitan sebagaimana terdapat dalam keempat Injil memperlihatkan pengaruh teologi Gereja Purba dan para pengarang injil sendiri. Maka untuk menentukan fakta historis -khususnya sebagai pengalaman para rasul sendiri- perlu diperbandingkan dahulu kisah-kisah kebangkitan itu.

            Keempat pengarang Injil “membungkus” berita tentang kebangkitan Yesus itu dalam cerita-cerita yang, jika kita membandingkannya, ternyata sangat berbeda satu sama lain. Markus dan Lukas misalnya menyebut ada perempuan pada makam (tetapi bukan yang sama). Matius menyebut dua dan Yohanes menyebut satu (tapi yang satu berkata dalam Yoh 20:2: ”Kami tidak tahu…”). Begitu juga dalam Markus ada tertulis, ”Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapa pun juga” (Mrk 16:8), sedangkan dalam Matius kita baca, “Mereka…berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus” (Mat 28:8). Dalam Injil Lukas tidak ada perintah untuk pergi ke Galilea, tapi dalam Injil Matius  perintah itu ada secara tersurat (Mat 28:10) dan dalam Markus ada juga, walau lebih tersirat (Mrk 16:7). Selanjutnya Matius dan Markus berbicara tentang satu orang malaikat, sedangkan Lukas dan Yohanes  tentang dua orang. Tetapi dalam Injil Yohanes, dua orang malaikat itu disebut dalam rangka kunjugan kedua, dan malaikat itu tidak berkata-kata. Dalam Matius, malaikat duduk di batu makam, sedangkan dalam ketiga Injil lainnya ia berada dalam makam. Sesudah adegan makam kosong, Matius menambahkan suatu penampakan Yesus kepada perempuan yang tidak terdapat dalam Injil-injil lain. Mengenai penampakan-penampakan Yesus itu harus dikatakan bahwa ceritera dalam keempat kitab Injil berbeda-beda, sama seperti halnya dalam ceritera tentang kubur yang kosong. Penampakan yang disebut oleh penginjil yang satu ini tidak disebut oleh penginjil yang lain, dan apabila mereka berbicara tentang penampakan yang sama, berbeda dalam hal detail.

            Semua ini membuat para ekseget berkesimpulan bahwa dibandingkan dengan kisah sengsara –ceritera tentang kebangkitan jauh lebih berbeda-beda antara ceritera yang satu dengan cerita yang lain. Keragaman-keragaman ini tidak mengherankan, sebab sengsara Yesus adalah satu peristiwa tunggal (meskipun masing-masing penginjil menyorotinya dari sudut yang berlain-lainan, sesuai dengan pandangan teologis seluruh karangan Injil masing-masing yang berbeda-beda pula). Sedangkan peristiwa-peristiwa Paska memang banyak: ”Dengan banyak tanda Ia membuktikan bahwa Ia hidup” (Kis 1:13). Selain itu para pengarang Injil tidaklah berusaha memberitakan semua peristiwa itu secara lengkap. Mereka memilih beberapa saja, tidak lebih daripada yang mereka anggap perlu untuk mewartakan secara tepat amanat Paska yang satu dan sama. Tentu saja pilihan tersebut dilakukan dalam rangka pandangan teologis yang menandai dan mewarnai masing-masing kitab Injil. Akibatnya ialah berbentuk berbagai-bagai ceritera yang kesemuanya mengandung warta yang tunggal ini: Yesus telah bangkit, Ia hidup.  Dalam hal detail, semua ceritera itu, ada perbedaan satu sama lain, tetapi dalam hal paling pokok tidak ada perbedaan. Hal paling pokok ialah Yesus telah bangkit, Ia Hidup!

            Bahkan lebih jelas  tentang  kisah kebangkitan Yesus bisa bisa kita baca dalam Luk 24:45-46. Di sini dikatakan bahwa Tuhan yang bangkit itu menjelaskan secara terperinci dari Kitab Suci, bahwa Ia bukan hanya menderita, tetapi Ia harus bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga. Namun, para murid tidak mengerti tentang nubuat tersebut (bdk. Luk 18:34). Walaupun Yesus telah berkata bahwa “segala sesuatu yang telah ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi (Luk. 18:31).[5]

            Jadi, walaupun ceritera Paska dalam keempat Injil tidak banyak diselaraskan satu sama lain, namun semua ceritera bersesuaian dalam hal-hal besar ini:

  • makam yang kosong,
  • penampakan malaikat,
  • dan terutama warta yang sebenarnya, yakni bahwa Yesus hidup.[6]

Tentang perbedaan antara ceritera-ceritera Paska itu masih patut dicatat ketiga hal berikut:

  • Perbedaan tersebut rupanya agak mencerminkan sedikit perasaan “bingung-campur-        gembira” yang menguasai hati orang-orang pada hari pertama minggu itu, ketika            HIDUP diwartakan di mana sangkanya kamatian terdapat.
  • Perbedaan itu pun memperlihatkan dengan jelas kepastian dan kejujuran Gereja perdana, sebab orang Kristen purba tidak”melicinkan” teks-teks dengan          menghilangkan perbedaan yang  terdapat antara ceritera yang satu dengan yang lain. sebaliknya, dalam segala kebebasan rohani, mereka membiarkan ceritera-ceritera itu sebagaimana adanya.

            Yang terutama ditonjolkan oleh perbedaan tersebut ialah adanya kesatuan amanat Paska yang meresapi semua ceritera sebagai warta tunggal. Yang berlaku untuk semua kitab Injil,  yakni bahwa ditulis bukan sebagai “riwayat hidup Yesus” dalam arti yang sesungguhnya melainkan sebagi suatu amanat, suatu pewartaan dan kesaksian, hal itu berlaku juga untuk ceritera Paska tentang kebangkitan Kristus.[7]

IV. Kisah Kebangkitan Menurut Rasul Paulus

            Seluruh agama Kristiani bergantung pada kebangkitan Yesus, sebagaimana ditandaskan  Santo Paulus, “Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu… dan kamu masih hidup dalam dosamu” (I Kor 15:14,17).

            Tanpa kebangkitan Kristus -demikian Paulus melanjutkan refleksinya- kami para rasul adalah pembohong dan kamu orang yang dibohongi, yakni secara menyedihkan sekali, sebab, “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus,  maka kitalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia” (I Kor 15:19).

            Para rasul memang awalnya merasa kecewa dengan kematian Kristus, akan tetapi hal itu tidak membuat mereka kemudian berkhayal tentang kebangkitan Kristus. Sebaliknya mereka nekad untuk berbuat apa saja, dan hal itu nampak dalam satu hal saja dalam segala kesederhanaannya,”…yang benar ialah bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati (I Kor 15:20).

            Untuk lebih jelas kita akan melihat kesaksian tertua yang kita temukan dalam surat pertama Paulus kepada umat di Korintus (I Kor 15:3-5). Itu merupakan rumusan terpenting dari “Kerygma Paska”. Namun, sebelum  melihat kesaksian Paulus, kita akan melihat lebih dahulu beberapa rumusan iman tentang kebangkitan Kristus.

             Sebagai contoh dapat dikemukakan aklamasi amat tua yang barangkali berasal dari liturgi:”Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon!” (Luk 24:34). Rumusan kerygmatis yang lain ialah kutipan berikut, “Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan bahwa Ia menampakan diri, bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari orang mati” (Kis 10: 40-41). Rumusan lain yang menyebutkan penampakan Kristus yang telah bangkit, tetapi tidak langsung mengutip kesaksian, ialah kesaksian l Tim 3:16  yang berasal dari ibadat Kristen purba.

            Ada juga beberapa rumusan iman serta serta madah-madah yang tidak menyinggung penampakan, tetapi lansung memberi kesaksian tentang kebangkitan Yesus, misalnya: Rm 1:3-4 dan madah Kristus dalam Flp 2:6-11, yang kedua-duanya bersifat pra-Paulus. Selain itu terdapat rumusan katekis tua dalam Rm 10:9 yang berbunyi, ”Jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati,  maka kamu akan diselamatkan” (Rm 10:9).

            Banyak pernyataan iman akan kebangkitan terdapat dalam bab-bab pertama Kisah Para Rasul, misalnya: “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua (para rasul) adalah saksi (kis 2:32). Bagitu pula -antara lain- Kis 3:15 dan 5:31-32.  Teks lain lagi, di luar Kisah Para Rasul, yaitu Rm 10:5-8; Ef 4:7-12; 1 Petr 3:18-22; 4:6.[8]

            Akan tetapi rumusan paling tersohor dan penting terdapat dalam I Kor 15:3-8  surat itu juga yang memuat berita yang tua sekali mengenai penetapan Ekaristi. Dan sebagaimana tentang berita Ekaristi, begitu pula berita mengenai kebangkitan Kristus, Paulus berkata bahwa ia telah menerima berita itu. Ini berarti bahwa cerita yang bersangkutan lebih tua daripada surat Korintus itu sendiri. Kalau demikian kita menyentuh di sini lapisan tertua kitab Perjanjian Baru, bantuan purbakala”-nya. Adapun isi berita tentang kebangkitan Kristus Yesus berbunyi:

            3”Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, 4bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci, 5 bahwa Ia telah menampakan diri  kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. 6 Sesudah itu Ia menampakan  diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa diantaranya telah mati. 7 Selanjutnya Ia menampakan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua Rasul. 8 Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya (I Kor 15:3-8)

            Karena pentingnya teks ini bagi iman kepercayaan Kristiani, kita akan menganalisis kesaksian yang termaktub di dalamnya secara lebih seksama. Untuk itu kita mengajukan kedua pertanyaan ini:

  1. Apa maksud sang saksi, yakni Santo Paulus, dengan pernyataannya dalam ayat 3 s.d. 8?
    1. Bagaimana dengan nilai historis kesaksiannya? Apa “daya bukti”-nya?

Jawaban a.

            Jelas sekali Paulus bermaksud membuktikan bahwa Yesus sungguh telah bangkit. Paulus mau mengemukakan bukti historis yang meyakinkan. Untuk itu disebutnya orang-orang yang dapat memberi kesaksian tentang kebangkitan Yesus, karena mereka sendiri telah melihat Yesus sesudah kebangkitan-Nya. Adapun orang-orang yang disebutkan Paulus yaitu:

  1. pertama-tama Petrus,
  2. kemudian ke-12 murid,
  3. lantas 500 saudara sekaligus,
  4. lalu Yakobus,
  5. kemudian semua rasul,
  6. akhirnya Paulus sendiri.

            Semua orang ini dapat memberi kesaksian, sebab kepada mereka itulah Yesus menampakkan diri setelah bangkit, ”Kepada mereka ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakan diri kepada mereka tentang Kerajaan Allah” (Kis 1:3).[9]

            Demikianlah maksud Paulus dalam perikop 1Kor 15:3-8  di mana ia mencatat bahwa beberapa dari ke-500 saudara itu telah meninggal, tetapi kebanyakan dari mereka masih hidup, sehingga dapat diminta keterangan tentang apa yang telah mereka lihat. Dengan catatan ini, Paulus  rupanya mau membela diri terhadap kemungkinan adanya “tuduhan” seolah-olah apa yang dikatakannya tentang penampakkan diri dari Yesus itu hanya isapan jempol saja.[10] Kesempatan untuk menghubungi banyak saksi yang masih hidup itu memperlengkapi kepercayaan akan kebangkitan Yesus dengan sebuah landasan kesaksian yang terjamin kebenarannya.

            Sedangkan, menanyakan nilai historis dari kesaksian kebangkitan sebagaimana tercantum dalam perikop tersebut (Jawaban b), orang harus mengakui bahwa nilai itu tinggi sekali. Daya buktinya amat besar, sebab berita Paulus ini dekat sekali dengan kejadian yang diberitakannya. Baik dipandang dari sudut pemberita, maupun kalau dilihat dari segi rumusan yang dipakai, maka tampak dengan jelas betapa dekat berita ini dengan peristiwanya sendiri.

            Mari kita melihat dari segi  pemberita: Paulus menulis surat ini pada tahun 56 atau 57 di kota Efesus. Berita ini sendiri lebih tua, sebab berita ini -menurut Paulus- telah diterimanya sendiri (ayat 3). Kapan Paulus menerimanya? Kita mengetahui (dari Galatia 1:18) bahwa Paulus berada di Yerusalem tiga tahun sesudah pertobatannya. Di Yerusalem dikunjunginya sekurang-kurangnya Petrus dan Yakobus (Gal 1:18-19). Nah, pertobatan Paulus berlangsung sekitar tahun 33 atau 35. Wafat Yesus terjadi kira-kira pada tahun 30. Kalau begitu Paulus berada di Yerusalem antara tahun 36-38, jadi antara 6 dan 8 tahun sesudah peristiwa penampakan itu terjadi. Ini berarti bahwa asal-usul berita ini masih dekat sekali pada peristiwa yang diberitakan Paulus dalam suratnya ini.[11]

            Kesimpulan tadi masih diperkuat lagi kalau kita menyelidiki rumusan berita Paulus ini. Untuk  sebagian, rumusan itu bercorak katekese, yaitu bagian ayat 3b s.d 5. Artinya bagian ini merupakan endapan tertulis dari pewartaan lisan pada tahun-tahun sebelumnya. Pewartaan itu diteruskan dari mulut ke mulut dan berisikan kabar berikut:

  • bahwa Kristus telah mati
  • bahwa Ia telah dikuburkan
  • bahwa Ia telah dibangkitkan
  • bahwa Ia  telah menampakkan diri.

            Karena bercorak katekese, maka teks 3b s.d. 5 terdiri dari unsur-unsur  yang sudah bersifat standar dan tetap (sudah baku). Jika rumusan sudah baku pada saat Paulus menulis surat-nya, ia tertolong oleh rumusan yang sudah lazim ini dan tidak hanya menggali ingatannya sendiri akan percakapannya dengan Petrus dan Yakobus tempo hari. Berita Paulus tentang kebangkitan Yesus ini tidak hanya berdasarkan ingatan Paulus sendiri tetapi juga berdasarkan tradisi katekis yang sudah tersebar luas dan yang masih dipakai sampai saat Paulus menulis suratnya.

            Berdasarkan kedua pertimbangan pertama, yaitu dekatnya Paulus sendiri pada peristiwa yang diberitakannya, dan kedua, umumnya berita yang – untuk sebagian- sudah dirumuskan sebelum Paulus mengirim surat kepada umat di Korintus ini, maka kita dapat berkesimpulan bahwa kita memiliki alasan-alasan historis yang kuat untuk berpendapat bahwa penampakkan Tuhan telah bangkit itu sungguh-sungguh dialami oleh sejumlah anggota umat Kristen perdana. Seandainya tanpa keyakinan iman seperti di atas, maka asal-usul umat Kristen purba di Yerusalem dan begitu asal-usul Gereja sedunia selam 20 abad ini menjadi teka-teki.

V. Makna Kebangkitan Yesus

                Setelah melihat historistitas kebangkitakanYesus, maka ada empat makna yang bisa kita telusuri: pertama, kebangkitan Yesus sebagai tindakan penyelamatanan Allah; kedua, makna kristologis; ketiga, makna penyelamatan bagi manusia.

V.I. Kebangkitan Yesus Sebagai Tindakan Penyelamatan Allah.

                Sudah di singgung di atas bahwa rumusan pewartaan akan kebangkitan Yesus, menegaskan peranan Allah. Hal ini memperjelas bahwa kebangkitan Yesus terutama memang karya Allah; kebangkitan Yesus adalah prakarsa Allah yang menyatakan kuat-kuasa-Nya dan daya serta kemuliaan-Nya (Rom 6:4; Kol 2:12; Ef 1:20).

            Kebangkitan Yesus selalu dilihat sebagai tindakan penyelesaian karya keselamatan Allah. Allah memenuhi janjinya dengan membangkitkan Yesus menjadi Sang Terurapi bagi keselamatan manusia yang jatuh ke dalam dosa. Dengan mengakui kebangkitan Yesus, orang beriman mengakui bahwa karya keselamatan Allah sampai pada puncak.[12]

V.2. Makna Kristologis Kebangkitan Kristus

                Kebangkitan Yesus tentu saja pertama-tama sebuah kejadian yang mengenai diri Yesus sendiri. Namun oleh Perjanjian Baru kemudian dipandang dalam hubungan dengan orang lain.  Kebangkitan pertama-tama dilihat sebagai sesuatu yang merubah diri pribadi Yesus, tetapi lebih-lebih sebagai sesuatu yang menentukan dan menyingkapkan kedudukan serta fungsi Yesus terhadap manusia.

            Dengan membangkitkan-Nya dari alam maut, maka  Allah mau menegaskan kembali siapa Yesus itu, sehingga kebangkitan Yesus membawa makna dan nilai bagi Yesus sendiri:

V.2.1. Allah Melantik-Nya Sebagai “Sang Terurapi” Atau “Kristus”

            Perjanjian Baru menjelaskan bahwa kebangkitan Yesus sebagai pengangkatan Yesus menjadi Sang Terurapi, atau yang disebut Kristus. Peranan dan kedudukan Yesus sebagai Kristus, Allah bagi manusia, menjadi nyata dalam kebangkitan-Nya. Melalui kebangkitan Allah meneguhkan semua yang dilakukan oleh Yesus Kristus semasa hidup-Nya. Apa yang dianggap terkutuk menurut ukuran manusia karena menderita dan wafat di salib, bagi Allah menjadi jalan penyelamatan. Allah menerima kematian Yesus dan membenarkan Dia dengan membangkitkan-Nya dari alam maut.[13]

            Dengan membangkitkan Dia dari alam maut, Allah malah melantik Yesus  sebagai Kristus yang diharapkan sepanjang sejarah keselamatan (Kis 2:24-36; 3:18).

            Perjanjian Baru kemudian menghubungkan pelantikan Yesus sebagai Kristus itu dengan kedudukan dan peranan-Nya sebagai hakim pada akhir zaman. Ia akan membebaskan orang dari kutuk akhir.

            Oleh karena itu, kristologis kebangkitan lalu bisa dikatakan demikian: dengan membangkitkan Yesus dari maut dan sekaligus mengangkat-Nya ke surga, Allah memberikan kepada Yesus kedudukan dan peranan keselamatan yang menentukan. Kebangkitan Yesus mempunyai peranan dalam keselamatan manusia, bukan semata-mata demi Dia.[14]

V.2.2.Allah Melantik Yesus Sebagai “Al-Masih”

            Dengan membangkitkan Yesus dari alam maut Allah ternyata melantik Yesus sebagai Al-masih, raja eskatologis yang diharapkan orang Yahudi, penyelamat terakhir (Kis 2:24-36). Dalam kebangkitan-Nya Yesus dijadikan Kristos dan Kyrios atau menurut Rom 1:4: “Putera Allah”.

V.2.3. Allan MelantikYesus Menjadi “Putera Manusia”

            Adakalanya Perjanjian Baru mengartikan kebangkitan Yesus sebagai pelantikan-Nya menjadi Putera-manusia. “Putera-manusia” adalah seorang tokoh kerajaan tetapi tokoh kerajaan eskatologis, bahkan apokaliptis (bdk. Mat. 10:24; 13:41.41; 16:27-28).

            Adapun Mat 28:16-20 jelas melukiskan Kristus yang bangkit (dan menampakan diri) sebagai Putera-manusia yang sudah menerima kekuasaan atas langit dan bumi dengan ciri-ciri apokaliptis (bdk. Dan 7:11).

            Kebangkitan juga masih mengartikan sebagai pelantikan Putera-manusia, sebab kemuliaan yang diberikan  kepada Yesus segera membuat orang berpikir kepada “kemuliaan Putera-manusia” di akhir zaman.[15]

V.2.4.Allah Melantik Yesus Menjadi “Hakim Eskatologis”

            Lukas dalam Kis 1:10-11 juga menghubungkan penampakan Yesus yang terakhir dengan parousia-Nya kelak. Dengan demikian kebangkitan diartikan sebagai semacam antisipasi dari Parousia Putera manusia kelak dan jaminannya. Gagasan yang sama terungkap kalau kebangkitan Yesus juga diartikan sebagai pelantikan-Nya menjadi hakim eskatologis. Pikiran itu terungkap dalam Kis 10:24 di mana Petrus menandaskan bahwa Yesus telah ditentukan oleh Allah menjadi hakim atas orang hidup dan mati.

            Gagasan bahwa kebangkitan Yesus berarti pelantikan-Nya menjadi Raja eskatologis dan kuasa Allah untuk akhir zaman terungkap pula manakala dikatakan bahwa Yesus diangkat ke surga. “Dengan pengangkatan ke surga” berarti Allah menjadikan Dia raja masehi, raja zaman akhir yang berkuasa dan mulia;  sekaligus Allah menjadikan Dia menjadi “Kyrios” dan penyelamat,  dan segenap sumber kehidupan baru dalam Allah.[16]

V.2.5.Kebangkitan Yesus Memainkan Peranan-Apolgetis: Bagi Orang Kristen Purba

                Dengan disalibkannya maka Yesus -terutama dalam pandangan orang Yahudi- adalah seorang berdosa yang terkutuk oleh Allah (Bdk. Gal 3:15; Rom 8:3). Akan tetapi bagi orang Kristen kebangkitan menunjukkan bukti Allah bahwa Yesus bukanlah seorang berdosa melainkan orang benar. Dengan membangkitkan–Nya Allah membenarkan Dia. Sehingga Yohanes  menandaskan bahwa Yesus yang bangkit dan mengutus Roh kudus dan meyakinkan dunia  tentang kebenaran bahwa Yesus dengan kematian-Nya pergi ke Bapa (bdk. Yoh 16:8-10). Selebihnya dengan membangkitkan Yesus maka Allah sendiri menyatakan bahwa pewartaan Yesus tentang  Kerajaan Allah yang sudah dekat, bahkan di dalam Kristus serta karya-Nya bukanlah suatu kekeliruan belaka.

            Maka makna kristologis kebangkitan dan pengangkatan Yesus dapat diringkas sebagai berikut:  dengan membangkitkan Yesus dari alam maut dan sekaligus “mengangkat-Nya ke surga” Allah memberikan kepada Yesus berbagai fungsi/jabatan eskatologis: Putera Manusia, Kristos (Al-Masih), Kyrios, Hakim, Putera-Allah.

VI. Makna Kebangkitan Yesus Bagi Manusia.

                Dengan membangkitkan Yesus dari alam maut, Allah juga membuka kesempatan bagi manusia lain yang bersatu dengan-Nya dalam derita dan maut. Karena wafat Yesus adalah solidaritas dengan orang berdosa. Kalau Kristus senasib dengan kita sampai pada kematian, maka kita tetap bersatu dengan Kristus, juga dalam kebangkitan. Keyakinan ini dirumuskan dengan mengatakan bahwa, “Yesus Kristus lalu menjadi yang sulung dalam kebangkitkan (Kol:18), karena Dia adalah yang sulung dari banyak saudara (Rom 8:29; Why1:15);  juga, ”Karena Kristus dibangkitkan dari antara orang mati sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (IKor 15:20). Dengan demikian kita juga boleh mengambil bagian dalam kebangkitan-Nya, ”Yesus tidak hanya wafat untuk kita, Ia juga dibangkitkan untuk kita” (2Kor 5:15). Maka, berulang kali dikatakan bahwa, ”Allah membangkitkan Yesus, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya” (IKor 6:14; 2Kor 4:14; Rom 8:11). “Jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa Allah akan- demi Yesus- membawa mereka yang telah meninggal, bersama-sama dengan Dia (I Tes 4:14).[17]

            Oleh karena itu, kebangkitan Yesus menjadi peristiwa yang representatif bagi manusia. Artinya bahwa kebangkitan Kristus bukan hanya berdimensi pribadi, tetapi juga berdimensi sosial, representatif bagi manusia yang percaya. Yesus yang dibangkitkan menjamin masa depan manusia, secara nyata mengerjakan dan mengarahkan nasib manusia yang percaya kepada-Nya: Akulah Kebangkitan dan Hidup (Yoh 11:25).

            Dengan demikian menjadi jelas bahwa kematian dan kebangkitan Yesus bukan hanya suatu kejadian individual dan perorangan, tetapi juga sebuah peristiwa representatif dari umat manusia. Bagaimanapun juga kematian dan kebangkitan serta kehidupan Kristus menjadi  kematian dan kebangkitan serta kehidupan eskatologis manusia juga. Jadi, kematian Kristus yang dibangkitkan sebagai kyrios umat tidak hanya menjamin masa depan saja, sebaliknya masa depan itu justru dijamin oleh Kristus yang sekarang secara efektif bekerja dan di dalam diri-Nya secara riil dan faktuil mengantisipasikan nasib eskatologis semua manusia, baik dalam kematian maupun kebangkitan-Nya. Di dalam Kristus manusia mengalami kematian dan pengadilan Allah dan juga mengalami kebangkitan dan kehidupan.[18]

            Dengan melihat makna kebangkitan Yesus bagi manusia seperti  di atas maka, sebenarnya orang beriman sudah mengalami secara efektif di dalam dirinya ”kuasa kebangkitan Kristus”, artinya kekuasaan ilahi yang membangkitkan Kristus dan melalui Kristus yang bangkit sampai kepada manusia. Di dalam dirinya orang membawa serta daya ilahi yang akan menghantar kepada kebangkitkan eskatologis tetapi melaui kematian, sama seperti Kristus melalui kematian sampai pada kebangkitan-Nya.  Dari sebab itu,  maka orang boleh berkata: berkat dan di dalam kematian serta kebangkitan Kristus manusia pun sudah mati dan bangkit.

Penutup

            Kebangkitan Kristus sendiri masih menimbulkan delima bagi sebagian orang, teristimewa mereka yang tidak beriman kepada kristus. Tetapi bagi orang kristen kebangkitan Kristus tidak perlu diragukan, karena hanya kepada orang-orang percayalah Allah memperkenalkan Yesus kepada mereka, dan kita adalah orang-orang yang percaya, maka Allah memperkenalkan Yesus kepada kita melalui para rasul dalam  pewartaan sabda-Nya. Karena itu kita tidak perlu ragu, seperti dikatakan oleh St. Paulus, ”Jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati,  maka kamu akan diselamatkan” (Rm 10:9). Karena  “Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu… (I Kor 15:14,17), dan kita  kitalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia” (I Kor 15:19). Tapi, yang benar ialah bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abineno, J. Aku Percaya Kepada Allah. Jakarta: BPK, 1983.

Darmawijaya, St.  Pengantar Ke dalam Misteri Yesus Kristus.  Yogyakarta: Kanisius, 1991.

Dister, Niko Syukur.  Kristologi Sebuah Sketsa. Cetakan ke-4. Yogyakarta:Kanisius, 1992.

Donal Guthrie, Teologi Perjanjian I, Allah, Manusia, Kristus. Cetakan Ke-8, terj. Lisda Tirtapraja            Gamadhi dkk.,  Jakarta: BPK       Gunung Mulia, 2001.

Kasper, W. Jesus the Christ. London and New York, 1976.

Lembaga Biblika SS. D.  Kuliah Tertulis Mengenai Ajaran Kitab Suci. Jakarta: Titjurg, 1967.     

KWI. Iman Katolik. Cetakan ke-5. Jakarta-Yogyakarta: Obor-Kanisius, 1998.


                [1] St. Darmawijaya, Pengantar Ke dalam Misteri Yesus Kristus (Yogyakarta: Kanisius, 1991),  hlm. 69.

                [2] Bdk. Lembaga Biblika SS. D,  Kuliah Tertulis Mengenai Ajaran Kitab Suci (Jakarta: Titjurg, 1967),  hlm. 142.

                [3] St. Darmawijaya, Pengantar Ke dalam Misteri Yesus Kristus (Yogyakarta: Kanisius, 1991),  hlm.73.

                [4] Ibid., hlm.76-77.

                [5] Bdk. Donal Guthrie, Teologi Perjanjian I, Allah, Manusia, Kristus, cet. ke-8, terj. Lisda Tirtapraja Gamadhi dkk., (BPK Gunung Mulia, 2001), hlm. 432

                [6] Niko Syukur Dister, Kristologi Sebuah Sketsa, cet. ke-4(Yogyakarta:Kanisius, 1992),  hlm. 203.

                [7] Bdk. Niko Syukur Dister, Kristologi,  hlm. 203-204.

                [8] W. Kasper, Jesus the Christ (London dan New York, 1976), hlm 125-126.

                [9] Bdk. Donal Guthrie, Teologi Perjanjian I, hlm. 433.

                [10] J. Abineno, Aku Percaya Kepada Allah (Jakarta: BPK, 1983),  hlm. 59..

                [11] Nico Syukur Dister,  Kristologi Sebuah Sketsa, cet. ke-2 (Yogyakarta:Kanisius, 1988),200.

                [12] St. Darmawijaya, Pengantar Ke dalam Misteri Yesus Kristus,  hlm. 73.

                [13] Bdk. Donal Guthrie, Teologi Perjanjian I, hlm. 446.

                [14] St. Darmawijaya, Pengantar Ke dalam Misteri Yesus Kristus hlm. 79-80; juga, Bdk. C. Groenen, Kristologi, hlm.329-330.

                [15] C. Groenen, Kristologi, hlm.326.

                [16] Bdk. C. Groenen, Kristologi, hlm. 327-329.

                [17] Bdk.  KWI, Iman Katolik, cet. ke-5 (Jakarta-Yogyakarta: Obor- Kanisius, 1998),  hlm. 292-293.

                [18] Ibid, hlm. 345-346.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *