Yang menonjol dalam konteks relasi dengan Ada  Tertinggi, dalam hubungan kodrat manusia adalah manusia sebagai subyek  yang belum selesai. Manusia masih di persimpangan jalan antara sudah atau belum. Jadi manusia masih menjadi proyek yang perlu diwujudkan dan disempurnakan.

            Perwujudan diri manusia menjadi tanggung jawab manusia dalam relasi dengan Ada Tertinggi. Dalam hubungan dengan Ada Tertinggi sambil memproyeksikan  diri ke masa depan, subyek manusia disertai dengan pengalaman positif dan negatif. Kesatuan dengan Ada Tertinggi oleh para pemikir Teistis dimengerti sebagai kesatuan partisipatif:  subyek-manusia  yang bersatu dengan Ada Tertinggi mengambil bagian dalam kesempurnaan dan kebahagiaan Ada Tertinggi. Sedangkan pemikir ateistis:  kesatuan itu dimengerti sebagai suatu penggantian posisi: pada waktu subyek manusia naik ke kesatuan dengan Ada Tertinggi ini harus diturunkan dari tahta-Nya, supaya subyek-manusia dapat duduk pada tahta itu.

            Pengalaman negatif partisipatif menunjuk pada kegagalan, penderitaan, kekecawaan, keputusasaan. Sedangkan, pengalaman positif menunjuk pada kegembiraan, keberhasilan, pengharapan. Tetapi kedua pengalaman masih bersifat sementara. Pengalaman positif berdasarkan pemahaman bahwa secara asli manusia itu baik adanya, meskipun demikian ini bukanlah kondisi final dari subyek-manusia. Karena manusia selalu dalam kondisi mencari: yang mungkin jatuh pada pengalaman negatif dan dilanjutkan dengan mencari jalan pulang, atau pengalaman positif yang dilanjutkan dengan usaha mencari lebih.

Manusia dan roh.

            Menurut beberapa filsuf roh adalah hakekat esensial dari keberadaan manusia. Karena itu, manusia tidak lain adalah roh. Sedangkan filsuf lain: berpendapat bahwa roh bukanlah hakekat esensial melainkan hanya aksidental, yaitu sebagai efinomena dari ketubuhannya.

            Tentang hakekat-spiritual, dapat disebutkan bebarapa pandangan sebagai berikut: (a)  Tradusianisme:  asal usul roh dari anak-anak ditarik dari roh orangtua. (b) Emanasi dari Ada Tertinggi. (c) penciptaan serentak  dari semua roh sebelum atau bahkan pada waktu yang sama dengan penciptaan dunia. (d) Penciptaan individual dan terpisah dari setiap roh dari pihak Allah pada waktu pembentukan tubuh. (e) evolusi materi.

Teori pengasal-usulan kemudian dibagi atas teori emanasi: teori yang menerangkan pengasal-usulan segala sesuatu, semua hal dari satu-satunya princip spiritual dengan perantaraan ekspansi dan ramifikasi spontan. Penciptaan: berarti pengadaan sesuatu yang sebelumnya belum dan tidak ada dalam satu cara apapun, baik dalam dirinya sendiri pun dalam kemungkinannya.

Manusia dan kebebasan

            Kebebasan dimengerti sebagai ketiadaan paksaan. Kebebasan dibagi atas: kebebasan fisik, moral, psikologis, politik dan sosial. Akan tetapi  kebebasan masih menimbulkan masalah. Dalam pemikiran kristiani, nasib tidak diakhui dan sebagai ganti diakui Allah, Bapa  Penyelenggara dan penuh cinta. Allah sendiri mewahyukan kepada manusia  bahwa ada pilihan bebas. Dalam periode patristik dan abad pertengahan: kebebasan adalah suatu  pertanyaan tentang hubungan antara manusia dan Allah. Sedangkan dalam pemikiran modern: kebebasan tidak lagi dalam hubungan dengan Allah, melainkan dalam hubungan dengan kemampuan lain dan dengan masyarakat.

            Terhadap pandangan-pandangan di atas ada dua pemecahan deterministik yang menyangkal kebebasan: deteminisme ekstrinsik mitologis dan teologis. Yang petama, menolak kebebasan manusia karena alasan mitologis, misalnya nasib yang menghalangi manusia untuk menjadi tuan atas diri sendiri. Kedua,  kebebasan ditolak karena alasan teologis: kemahakuasaan Allah tidak memberi satu ruangpun,  pada kebebasan manusia.

            Pemahanan yang lebih mendalam tentang masalah kebebasan coba dibahas,  misalnya oleh Origenes: menurutnya putusan bebas membentuk esensi  makhluk berakalbudi: tak sorangpun dapat dipaksa untuk bertindak. Imanuel Kant: merumuskan kebebasan sebagai kekhasan kehendak untuk memberi hukum pada  dirinya sendiri.

Kodrat kebebasan

Thomas dan beberapa pengarang lain membedakan dalam tindakan bebas 3 saat utama: pembebasan, putusan, pilihan. Yang dimaksudkan dengan “pembebasan” adalah tahap eksplorasi, penelitian sekitar obyek yang hendak dicapai atau tindakan yang hendak dilakukan. Pada tahap ini orang harus tahu apa yang harus dibuat dan meneliti tindakan yang hendak dilaksanakan atau dicapai. Yang dimaksud dengan putusan adalah: tahap penilaian. Setelah  kita memperoleh informasi  yang cukup kita kemudian membuat penilaian dan membuat putusan, tetapi putusan itu harus bersifat praktis dalam arti harus bernilai untuk saya. Setelah  kita sampai pada keputusan ini maka kita akan membuat pilihan; jadi, yang dimaksud dengan pilihan adalah putusan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *