Eksistensi Dalam Relasi Dengan Sesama Manusia
By leonardus.ansis / May 3, 2022 / No Comments / Leonardus
Pembentukan kepribadian kita turut tergantung pada kehadiran orang lain. Di sini kita melihat kehadiran sesama itu penting karena kehadiran sesama menjadi unsur pembentuk keberadaan dan kehidupan seseorang. karena itu hubungan antara manusia merupakan hubungan yang sangat mendasar. Jadi, tanpa hubungan itu manusia tidak dapat mewujudkan dirinya seutuhnya. Tapi supaya hubungan menjadi mungkin, maka kita harus sadar bahwa kita berbeda dengan orang lain; keberadaan dan kehadiran orang lain harus dipertahankan dan terus-menerus diakui.
IIC.1. Manusia dan bahasa.
Manusia bicara, karena bicara sudah dikodratkan bersama manusia.berbicara bisa jalan apabila orang masuk dalam komunikasi dengan orang lain dan dalam komunikasi itu bahasa digunakan sebagai sarana komunikasi. Bahasa dapat didefenisikan sebagai aktivitas, dengan mana manusia dengan perantaraan tanda vokal pun tertulis, menempatkan dirinya dalam suatu komunikasi dengan sesama (atau Allah) untuk mengungkapkan perasaan sendiri, keinginan-keinginan atau pengetahuan–pengetahuan sendiri. Dalam bahasa ada 3 unsur esensial yang bisa dikemukakan: 1) subyek yang berbicara. 2) obyek pembicaraan. 3) teman bicara pada siapa dan dengan siapa seseorang berbicara dan mau berkomunikasi sambil bicara.
IIC.1a. Fungsi utama bahasa: bahasa mempunyai beberapa fungsi, yaitu a) fungsi deskriptif: bahasa berfungsi untuk melukiskan dan memberikan pengetahuan tentang barang yang hendak diketahui; untuk memberikan penjelasan, ketepatan dan obyektivitas.b) fungsi komunikatif: secara esensial bahasa dimaksudkan sebagai alat atau sarana dengan mana manusia menemptkan dirinya dalam hubungan dan komunikasi dengan yang lain. c) fungsi ekspresif: yang dimaksud dengan fungsi ini adalah fungsi eksistensinya. Bahasa berfungsi untuk memberi kesaksian, tapi bukan kesaksian yang kabur, tidak tentu, melainkan suatu kepastian yang pasti.d) fungsi ontologis: dikemukakan oleh Heidegger dan yang dimaksudkan adalah bahasa asli, yaitu bahasa dengan mana Ada berbicara dan menunjukkan dirinya sendiri dalam hal-hal lain.
IIC.1b. Hubungan antara bahasa dan pikiran.
Dalam perkembagan filsafat bahasa, terdapat 2 pandangan tentang hubungan antara bahasa dan pikiran. Ada yang berpendapat bahwa ada pembedaan jelas antara bahasa dan pikiran sambil memberikan prioritas kepada bahasa atau kepada pikiran, sedangkan ada yang melihat kesatuan antara keduanya. Meskipun demikian kita bisa melihat hubungan antar keduannya: secara asli berpikir sama sekali tidak dapat dipisahkan dari berbicara dan mengartikan maksud yang dalam bunyi linguistik.
IIC2. Manusia dan budaya
Bila kita menelusuri dari sejarah dan istilah ‘budaya’ maka dikemukakan tiga arti dan tiga penggunaan utama: a) egaliter: dikenakan pada kuantitas pengetahuan. Lebih banyak pengatuan yang diketahui seseorang lebih berbudayalah orang itu.b)Pedagogis: dikenakan pada pendidikan dan pembentukan manusia, dalam arti suatu proses pematangan dan perwujudan kepribadian seseorang. c) Antropologis: dikenakan pada kumpulan kebiasaan, teknik dan nilai, yang membedakan kelompok sosial yang satudari yang lain, kelompok adat dan bangsa yang satu dengan kelompok adat dan bangsa yang lain.
Dalam perkembangan filsafat sendiri terdapat perbedaan pandangan: 1) filsafar klasik: menerima manusia sebagai ada natural. Hidup dan bertindak menurut alam, itulah yang menjadi tuntutan dan perintah yang harus dilaksanakan dalam filsafat klasik. 2) filsafat moderen: pemikir modern melihat manusia bukan sebagai suatu hasil dari alam sebagai produk dirinya sendiri. ahli bangunan manusia adalah manusia itu sendiri. untuk itu, jalan tengah yang bisa dikemukakan untuk mengantarai ekstrim naturalisme dan historisisme adalah manusia adalah ada kultural: artinya manusia adalah sebagian adalah hasil alam dan sebagian adalah hasil sejarah. Campuran antara alam dan sejarah inilah yang disebut budaya.
Ada beberapa unsur konstituf utama dari budaya sebagai bentuk spiritual:
a) Bahasa: perlu dibedakan dua arti bahasa. Pertama, bahasa sebagai kemampuan yang secara natural diberika kepada manusia. Kedua, bahasa sebagai suatu sistem tertentu dari tanda-tanda linguistik dari suatu kelompok sosial untuk mewujudkan komnikasi di antara mereka. Dapat ditarik 3 kesimpulan sehubungan dengan hubungan antara bahasa dan budaya: a)budaya suatu kelompok sosial mulai pada waktu kelompok itu menemukan bahasanya. b) bahasa berkembang bersama-sama dengan budaya. c) budaya sebagi jiwa suatu bangsa, bercermin dalam bahasa.
b. Adat-kebiasaan: bahasa saja tidaklah cukup untuk mengasal-usulkan suatu budaya tertentu, unsur lain yang cukup penting adalah: adat-kebiasaan. Dengan perantaraan adat-kebiasaan diperjelas aspek penting dari budaya, yakni aspek afektif. Aspek afektif nampak dalam adat-istiadat adat-istiadat inilah yang mengangkat kemuliaan suatu bangsa, keterbukaan untuk berdialog atau sebaliknya, egoisme, kekerasan atau toleransi, kesahajaan.
c. Teknik: A. Lalande, memberi defenesi tentang teknik sebagai” keseluruhan dari proses-proses yang didefenisikan dengan baik dan dapat disebarkan, yang semuanya ditujukan untuk menghasilkan hasil-hasil tertentu yang dianggap perlu”. Teknik dirancang oleh manusia untuk menghadapi dan menjawab kebutuhan-kebutuhannya. Dengan demikian jelas bahwa teknik menempati posisi yang juga penting dalam budaya.
d. Nilai: setiap bangsa memiliki suatu kesadaran akan nilai. Nilai yang paling utama adalah hidup itu sendiri. akan tetapi ada perbedaan pendapat tentang nilai. Ada yang berpendapat bahwa nilai tidak dimasukkaan sebagai salah satu unsur konstitutif di antara unsur-unsur yang lain dari budaya. Yang lain berpendapat nilai adalah satu-satunya unsur yang membentuk budaya. Ada kebenaran dari tesis ini bahwa nilailah yang memberikan kesatuan dan ketetapan pada budaya. semua ekspresi kultural entah politik, seni agama, sastra dlsb, semuanya mengacu pada satu nilai fundamental yang hendak diolah dan diinkarnasikan oleh suatu budaya.
