Pendahulun

                Tak dapat disangkal bahwa salah satu bidang iman Katolik yang sering dipersoalkan dan diperdebatkan pihak non-Katolik adalah soal Maria. Sering ditanyakan orang: apakah Maria itu benar-benar tetap perawan.  Harus diakui bahwa soal keperawanan Maria tidak mudah diterangkan. Ini lebih merupakan soal iman-kepercayaan yang sudah lama sekali diimani Gereja.

Nah, dalam paper ini kami akan menguraikan unsur-unsur Homologi, Fistis, Kerygma, Apologi, Credo dan Sejarah Perkembangan Dogma itu sendiri.

1. HOMOLOGI

                Homologi adalah pujian atau seruan untuk meluhurkan Allah dalam hidup manusia sebagai tanda bakti atau hormat yang dinyatakan dalam seruan-seruan berupa gelar-gelar.[1] Berikut ini beberapa homologi berkaitan dengan sejarah terbentuknya dogma “Maria Tetap Perawan”

Yes 7:14, Pemberitaan mengenai Imanuel

“Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.”

Mat 1:18

Yesus dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan dari Perawan Maria

Lukas  1:26-28, Pemberitaan tentang kelahiran Yesus

Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”

Luk 1:42, Maria dan Elisabet

“Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.”

Ephraim, Hymns on the nativy, 15:23 (A.D. 370)[2]

Biarkan wanita memujinya, Maria yang murni.

Athanasius[3]

“Oh, Perawan yang mulia engkau sungguh agung. Engkau sungguh lebih agung dari semua keagungan, sebab siapakah yang sama dengan engkau dalam keagungan, oh tempat kediaman Allah Sang Sabda? Dengan siapakah di antara mahkluk ciptaan akan kubandingkan engkau ya Perawan? Engkau lebih mulia dari semua yang lain, ya perjanjian. Engkau berpakaian kemurnian bukan emas. Engkaulah Tabut Perjanjian dan piala emas berisi manna sejati, yakni daging di mana tinggal Allah sendiri. Maria Perawan yang tidak bercela. Maria Perawan yang bukan hanya tidak bercela, tetapi perawan yang telah dimurnikan oleh rahmat, bebas dari setiap benih dosa.”

Epiphanius Dari Salamis, Medicine Chest Against All Heresies[4]

Kepada Maria yang suci, Perawan yang tanpa noda, wanita tanpa cela.

Ambrosius dari Milan (339-397), Commentary on Psalm[5]

Datang lalu carilah domba-dombamu, tidak dengan pelayan dan orang bayaranmu, tapi lakukanlah itu sendiri. Angkatlah tubuhku yang telah jatuh dalam Adam. Angkatlah aku bukan dari sara tapi dari Maria, Perawan tanpa noda.

Timotius dari Yerusalem, Homily on Simeon and Anna[6]

Maria adalah Perawan abadi yang suci hingga hari ini.

Romanus[7]

Salam-salam dalam tulisan Romanus berpengaruh luas baik di Byzantium maupun di Gereja Barat sebab salah satu hymne diterjemahkan dalam bahasa Latin pada abad ke-9. Hymne itu adalah demikian, “Salam, Bunda tanpa noda, salam bagi isteri yang tidak diperistri.”

Theodotus dari Ancyra, Orat in Dei Genitr[8]

Maria adalah perawan tanpa dosa; tanpa noda hitam; ruang kosong dari kejahatan; setangkai bunga lily yang berkembang di antara semak duri; disucikan bagi Allah sebelum ia dilahirkan; tidak bernoda, bebas dari cacat.

Epraem dari Syria[9]

Biarlah para wanita memuji Maria murni. Engkau (Yesus) sendiri dan Maria ibu-Nya murni dalam segala sesuatu, tiada dosa dalam Engkau dan ibu-Mu.

Germanus dari Konstantinopel, The Dormition[10]

Engkau adalah dia yang seperti tertulis, tampil dalam keindahan dan tubuh keperawananmu adalah kudus, suci, sepenuhnya menjadi tempat kediaman Allah, sehingga mulai sekarang dibebaskan secara sempurna dari penghancuran menjadi debu.

Theodotus dari Ancyra, Khotbah pada Konsili Efesus[11]

Maria adalah perawan tanpa noda dan mengandung untaian salam; salam suka cita bagi kita yang lama menyimpan hasrat. Salam keselamatan. Salam ibu kudus yang tanpa noda.

2. FISTIS

Fistis adalah norma atau formula iman yang telah memiliki isi dan bentuk yang tetap. Beberapa fistis yang berhubungan dogma “Maria Tetap Perawan” ialah:

Ambrosius, Sermo XXII no. 30[12]

Maria, seorang perawan, bukan hanya tanpa noda, tapi seorang perawan yang penuh rahmat, bebas dari dosa.

John Damascus[13]

Pantaslah bahwa dia yang telah mempertahankan keperawanannya utuh dalam melahirkan seorang anak, harus menjaga tubuhnya sendiri bebas dari semua cela.

John Damascus[14]

Kuasa Allah atas Maria diperluas hingga ke orang tuanya; garis keturunan mereka disucikan oleh Roh Kudus dan dibebaskan dari akibat dosa karena hubungan seksual, sehingga meskipun unsur tubuh mereka asli namun dibentuk dari semua cela.

Proclus dari Konstantiopel, Homily I[15]

Tuhan yang adalah Sabda dari Bapa dilahirkan oleh Maria yang secara sempurna bersih dan tidak membuat skandal bagi para penyembah berhala.

St. Athanasius dari Alexandria (abad ke-4), On The Incarnation of the Word [16]

Dia (Kristus) menerima (tubuh-Nya) dari kesucian dan kemurnian Perawan, yang tak diketahui oleh pria.

Typicon S. Sabae[17]

Maria murni, dibebaskan dari setiap kesalahan

Ephraim dari Syria, Nisibene Hymns[18]

Hawa dalam keperawanannya menutupi kemaluannya dengan sehelai daun. Maria dalam keperawanannya menutupi diri dengan busana kemuliaan.

Ephraim dari Syria, Carmina Nisibene[19]

Maria semurni Hawa sebelum Hawa jatuh dalam dosa, seorang perawan yang dijatuhkan dari dosa, lebih suci daripada Serafim, meterai Roh Kudus, benih murni dari Allah, murni dalam tubuh dan pikiran.

Klemens dari Alexandria, Paedagogus[20]

Perawan – Ibu merupakan satu kenyataan tunggal. Ia adalah seorang perawan dan seorang ibu secara serentak. Ia tanpa noda sebagai seorang perawan. Ia penuh kasih sebagai seorang ibu. Ia membesarkan anak-anaknya dan memberi mereka minuman dengan susu suci, Sabda yang seperti anak kecil.

St. Epiphanius[21]

Siapapun yang menghormati Allah juga menghormati tempat kudus. Demikian juga, siapa yang tidak menghormati tempat kudus juga tidak menghormati Allah. Maria yang pada dirinya merupakan Perawan Kudus, yang adalah tempat kudus.

Jacob dari Sarug, The Sentence Against Adam and Eve[22]

Allah memiliki orang-orang terpilih dan tidak ada yang lebih suci daripada Maria. Seandainya jiwa Maria ternoda dan perawan yang lain lebih suci dan murni, maka Allah tentu akan memilih perawan lain dan menolak Maria. Tapi Maria bebas dari noda dosa, bahkan dari dosa asal.

Theotokos dari Livas[23]

Maria lahir seperti kerubim Malaikat. Dia adalah seorang wanita dari tanah liat, manusia yang murni dan tak bercela.

Origenes, Homily I[24]

Ibu perawan ini satu-satunya yang memperanakkan Allah, disebut Maria yang layak dari Allah, yang kudus dari yang terkudus, tak bernoda dari yang tak bernoda, satu dari yang satu.

Origenes, Commentary on Matthew, Quoted in Gambero[25]

Setiap jiwa keperawanan, butuh dipahami sebagai kuasa Roh Kudus dalam aturan yang diberikan sejak lahir menurut kehendak Allah, merupakan Bunda Kristus.

George dari Venesia[26]

Maria disebut sebagai “Cermin Kekudusan”, pantulan murni dari kekudusanNya.

Theodorus dari Ancyra, Homily IV[27]

Hawa, adalah sebuah sarana kematian; lebih menyenangkan bagi Allah dan seluruh rahmatNya, sebuah sarana kehidupan. Seorang perawan, tanpa dosa, tanpa noda, bebas dari cacat, tidak tersentuh, kudus dalam jiwa dan tubuh, seperti Lily di antara semak duri.

Gregorius dari Nyssa, De Virginate II[28]

Sebab yang terjadi secara badani dalam diri Maria yang tanpa noda ketika kepenuhan ke-Allah-an dalam diri Kristus memancar keluar melalui Santa Perawan terjadi juga dalam setiap jiwa yang secara rohani hidup sebagai seorang perawan.

Lumen Gentium no. 56

Menjadi lazim untuk menyebut Bunda Allah suci seutuhnya dan tidak terkena oleh cemar dosa manapun juga, mahluk yang diciptakan dan dibentuk baru oleh Roh Kudus. Perawan dari Nazaret itu sejak saat pertam dalam rahim dikurniai dengan semarak kesucian yang sangat istimewa.  Atas titah Allah ia diberi salam oleh Malaikat pembawa warta dan disebut “penuh rahmat. Kepada utusan dari sorga itu ia menjawa,”Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu.”

Lumen Gentium no. 63

Dalam iman dan ketaatan ia melahirkan Putra Bapa itu sendiri, dan itu tanpa mengenal pria, dalam naungan Roh Kudus, sebagai Hawa yang baru, karena percaya akan utusan Allah dengan iman yang tak tercemar oleh kebimbangan.

3. APOLOGI

Apologi adalah pembelaan iman melalui rumuasan iman yang benar dan masuk akal/rasional, untuk melumpuhkan serangan-serangan orang-orang yang menentang iman kita.

                Pada bagian ini kami akan menguraikan beberapa pandangan yang meragukan keperawanan Maria dan beberapa teolog/Bapa Gereja yang menanggapi pandangan-pandangan tersebut.

Ignatius Uskup Anthiokia di Siria (± thn 110) melawan semacam dekotisme yang menyangkal kemanusiaan Yesus, dalam suratnya kepada umat di Smirna (1:2) dan jemaah di Efesus (18:2) jelas menilai dikandungnya Yesus oleh Perawan Maria sebagai pokok iman Kristen.[29] Demikian juga Aristides (± thn 140), Justinus ((± thn 163),[30] Ireneus ((± thn 202), Tertulianus (± thn 22), menganggap “conceptio virginalis” sebagai “regula fidei” (kaidah iman) yang umum diterima. [31]

Pada abad II ada sekelompok orang Kristen keturunan Yahudi (disebut “Ebyonim”) yang berpendapat bahwa Yesus dikandung secara wajar sama seperti manusia lain dikandung. Justru pendapat inilah maka Ireneus dan Justinus mempertahankan conseptio virginalis (dikandungnya Yesus oleh perawan) dan itu pun secara biologik sine semine virili (tanpa mani laki-laki).[32]

Pada  abad III keyakinan bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus dan tetap perawan telah masuk dalam shayadat, yang selalu berkata: Yesus Kristus, Anak Allah, yang karena Roh Kudus, lahir dari perawan Maria (Bdk. DS 10.11.12.13). Kadang-kadang dalam syahadat setempat ditambah,”…lahir dari perawan tanpa benih (mani) laki-laki” (bdk. DS 62.63) dengan maksud menekankan dimensi biologik-fisik keperawanan itu. Penegasan itu beberapa kali diulang lagi (bdk. DS 189.368.503.533.1880). Juga masih diafirmasikan oleh Konsili Vatikan II (LG No.63),

Pendapat Yustinus (apologit dan Martir ± 165), yang coba membuat persamaan antara Maria dan Hawa, juga menekankan keperawan Maria sebelum melahirkan Yesus.  Ia mengatakan bahwa,”Dalam iman dan suka citalah, Maria Perawan mengandung ketika Malaikat Gabriel menyampaikan berita kepadanya…yang ia jawab,”Jadilah  padaku menurut perkataanmu itu. Jadi, melalui perantaraan perawan itu, Yesus datang ke dalam dunia…Dialah yang akan membebaskan dari kematian orang-orang perasaan mereka yang jahat dan percaya kepada-Nya.[33] 

Pada abad XIX keraguan mengenai keperawan Maria dari segi fisik-biologiknya mulai tampil di kalangan teolog (liberal) Reformasi . Tanggapan atas keraguan akan dijelaskan pada bagian sejarah perkembangan “Dogma Keperawanan Maria”.

4. KERYGMA

Kerygma adalah pewartaan, cerita tentang peristiwa atau fakta keselamatan. Beberapa kerygma tentang dogma “Maria Tetap Perawan” sebagai berikut:

Ignatius dari Antiokhia (Sekitar Tahun 110)

Tuhan kita yang sungguh berasal dari keturunan Daud menurut daging dan Anak Allah menurut kehendak dan kuasa Allah, sungguh lahir dari seorang perawan, dibaptis oleh Yohanes, supaya segala kebenaran digenapkan oleh-Nya sungguh dipakukan waktu Pilatus serta raja wilaya itu.[34]

Yustinus Martir (+ 165), Dialogue with Trypho the Jew[35]

Yesus menjadi manusia melalui seorang perawan. Pada awalnya, jalan ketidaktaatan telah diambil melalui perantaraan ular oleh Hawa, seorang perawan tanpa cela, mengandung karena perkataan ular, tidak taat dan mati; ketidaktaatan itu dengan cara yang sama telah dihancurkan oleh Perawan Maria tanpa noda. Perawan Maria dengan penuh iman menerima kabar gembira yang dinyatakan oleh Malaikat Gabriel, yaitu bahwa Roh Allah akan datang kabar gembira yang dinyatakan oleh Malaikat Gabriel, yaitu bahwa Roh Allah akan datang padanya, kekuatan Allah yang Maha Tinggi akan menaunginya dan Yang Kudus akan lahir darinya sebagai Putera Allah. Dan Maria menjawab, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1:38). Dan olehnya telah dilahirkan Dia yang kepadaNya begitu banyak  Kitab Suci mengacu, sebagaimana telah kami buktikan dan melaluiNya Allah menghancurkan baik iblis maupun malaikat-malaikat dan orang-orang yang menyerupainya.

Yustinus Martir (+ 165)

Selain Kristus kami ini, tak pernah seorang pun dilahirkan dari perawan.[36]

Ireneus dari Lyon (Sekitar Tahun 202)

                Sesuai dengan rancangan ini, Perawan Maria didapatkan taat ketika berkata, ‘sesungguhnya kau ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.’Akan tetapi, Hawa tidaklah taat ketika masih perawan. Sebagaimana Hawa mempunyai Adam sebagai suaminya namun masih perawan-keduanya memangtelanjangdi Firdaus dan tidak merasamalu,tetapi mereka yng baru saja diciptakan itu belum tahu-menahu tentang memperanakan; terlebih dahulu mereka harus bertumbuh menjadi dewasa sebelum bertambah banyak- dan karena ketidaktaannya, ia mendatangkan kematian bagi dirinya sendirinya dan bagi seluruh bangsa manusia., begitu pula Maria mempunyai suami namun ia pun masih perawan dankarena ketaatannya, ia menjadi penyebab keselamatan bagi dirinya sendiri dan bagi seluruh bangsa manusia. Oleh karena itu, hukum menyebut dia yang bertunangan dengan seorang laki-laki, meskipun dia masih perawan, isteri dari orang yang bertunangan dengannya. Dengan demikian, ditunjukkan (oleh hukum itu) lingkaran dari Maria kembali kepada Hawa, sebab apa yang diikat itu tidak dapat dilepaskan lagi kecuali dengan membalikkan proses yang oleh karenya simpul-simpul keterikatan itupernah terjadi…..Dan dengan demikian pula simpul ketidaktaatan Hawa telah dilepaskan oleh kataatan Maria. Sebab yang diikat oleh Perawan Hawa karena ketidakpercayaan dibebaskan oleh Perawan Maria karena iman.[37] 

Ireneus (LG no. 56).

Ikatan yang disebabkan oleh ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh Perawan Maria karena imannya.

Ireneus dari Lyon(Sekitar Tahun 202)

  • Danmereka yang menyebutNya (yaitu Yesus) Sang Imanuel dari perawan, mengacu kepada penyatuan Firman Allah dengan makhluk ciptaanNya, karena Firman menjadi daging dan Anak Allah menjadi Anak Manusia, yang [diriNya sendiri] murni adanya dengan cara murni membuka rahim yang murni, yakni rahim yang telah melahirkan orang kembali bagi Allah dan yang oleh Dia sendiri telah dimurnikan.
  • Tetapi bagaimanakah ia (manusia) dapat meninggalkan kelahiran maut, kalau ia tidak dilahirkan kembali kepada kelahiran baru, yang oleh Allah secara ajaib dan tak terpahami dianugerahkan menjadi tanda keselamatan dri perawan melalu iman.[38]

Frank Duff[39]

Hak istimewa merupakan bagian dari Maria. Ia mengandung tak bernoda; dan bersama-sama dengan keistimewaan ini, nubuat surgawi telah dipenuhi; Kebundaan Ilahi, penghancuran kepala ular dalam penebusan, Kebundaan Maria atas manusia.

St. Ambrosius (LG no. 63)

Bunda Allah itu pola Gereja yakni dalam hal iman, cinta kasih dan persatuan sempurna dengan Kristus. Sebab dalam misteri Gereja, yang tepat juga disebut bunda dan perawan, Santa Perawan Maria mempunyai tempat utama, serta secara ulung dan istimewa memberi teladan perawan maupun ibu.

Paus Pius XI (LG no. 69)

Merupakan kegembiraan dan penghiburan yang besar, bahwa juga di kalangan para saudara yang terpisah ada yang menghormati Bunda Tuhan dan Penyelamat sebagaimana harusnya, khususnya dalam Gereja-Gereja Timur, yang dengan semangat berkorbar dan jiwa bakti yang tulus merayakan ibadat kepada Bunda Allah yang tetap Perawan.

St. Agustinus

Dengan cara yang ajaib Ia lahir! Apakah yang lebih ajaib daripada kelahiran dari perawan? Dia hamil, namun di perawan. Dia melahirkan, namun dia perawan. Jadi, dari perempuan yang diciptakanNya, Ia tercipta. Kepadanya Ia berikan kesuburan sedangkan keperawanannya dibiarkan –Nya tetap utuh.[40]

5. CREDO

“Yang dikandung oleh Roh Kudus,[41] dilahirkan oleh Perawan Maria.[42]

                Roh Kudus adalah pribadi ketiga dari Allah Tritunggal. Dalam Injil dikatakan bahwa Yesus dikandung dari Roh Kudus (lih. Mat 1:18-20; Luk 1:35). Maka ungkapan Yesus dikandung dari Roh Kudus berartiYesus berasal dari Allah dan Yesus sungguh Allah. Ke-Allahan itu nampak dalam sabda dan karyaNya.

                Sedangkan, ungkapan “Yesus dilahirkan oleh perawan Maria” berarti bahwa Yesus sungguh-sungguh manusia. Kitab Suci menegaskan,”Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita” (Yoh 1:14). Dan Yesus tidak mempertahankan ke-AllahanNya dan telah mengambil rupa manusia (lih. Fil 2:6-7). Kemanusiaan Yesus tampak dalam sifat-sifatNya sebagai manusia seperti kita. Ia makan dan  minum (Luk 7: 34), letih dan haus (Yoh 4:6-7), dll. Semuanya itu menyatakan bahwa Yesus sungguh manusia, yang turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Hanya Ia tidak berbuat dosa (Ibr 4:15).

6. PERKEMBANGAN DOGMA DALAM TRADISI

Sejak Perjanjian Baru pada umat Kristen ada keyakinan bahwa Yesus tampil di muka bumi dengan cara lain dari pada yang biasa bagi manusia. Seperti manusia lain Ia dilahirkan oleh ibu-Nya, Maria. Tapi tidak diperanakkan oleh seorang ayah, seperti manusia lain. Seperti dirumuskan Mat 1:18: ibu Yesus mengandung Dia dari Roh Kudus, Roh, daya ciptaan Allah sendiri. Roh Kudus itu bukan ayah Yesus (bdk. DS 533), tetapi Allah dengan RohNya, ialah daya penciptaan (bdk. Kej 1:1 dst.) menciptakan Yesus dari ibu-Nya dan langsung melepaskan proses alam pembukaan anak, yang biasanya dilepaskan oleh ayah anak itu.

                Tradisi tentang keperawanan Maria dalam mengandung Yesus (virginitas ante partum) amat kuat sekali. Sangat jelas terungkap dalam Mat 1:18 “Ketika ibu Yesus bertunangan dengan Yusuf ia kedapatan mengandung dari Roh Kudus sebelum mereka berkumpul (secara resmi nikah).”[43]

Pada abad II memang ada sekelompok orang Kristen keturunan Yahudi (disebut “Ebyonim”) yang berpendapat bahwa Yesus dikandung secara wajar sama seperti manusia lain dikandung. Justru pendapat inilah maka Ireneus dan Justinus mempertahankan conseptio virginalis (dikandungnya Yesus oleh perawan) dan itu pun secara biologik sine semine virili (tanpa mani laki-laki).

St. Irenaeus menegaskan tentang keperawanan Maria bahwa, ”Karena bangsa Manusia diserahkan kepada maut melalui seorang perawan, ia juga diselamatkan  melalui seorang perawan; dengan paralel yang sempurna ketaatan seorang perawan memulihkan apa yang hilang oleh ketidaktaatan seorang perawan.”[44]

                Pada awal abad ke II St. Ignatius  menulis sebagai berikut,”Bagi sang penguasa dunia ini  Maria  dan persalinannya disembunyikan, demikian pula kemuliaan Tuhan-tiga misteri yang berteriak dengan nyaring, yang terjadi dalam kesunyian Allah (Ef. 19:1).[45]  Melalui tulisan St. Ignatius ini, ia hendak menegaskan bahwa keperawanan dan persalinan adalah sebuah misteri bagi manusia.  Maka, sejak abad II, Gereja sudah mengakui dan mengimani bahwa “Maria tetap perawan” (DS 427), juga setelah melahirkan Yesus (DS 291, 294, 442, 503, 571, 1880).

Sejak abad ke-3 keperawanan Maria sudah diakui dalam syahadat-syahadat dan secara khusus ditegaskan kembali dalam Konsili Konstantinopel II (tahun 553).[46]  Dalam  abad III ini keyakinan bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus dan tetap perawan yang telah masuk dalam shayadat, selalu berkata: Yesus Kristus, Anak Allah, yang karena Roh Kudus, lahir dari perawan Maria (Bdk. DS 10.11.12.13). Kadang-kadang dalam syahadat setempat ditambah,”…lahir dari perawan tanpa benih (mani) laki-laki” (bdk. DS 62.63) dengan maksud menekankan dimensi biologik-fisik keperawanan itu. Penegasan itu beberapa kali diulang lagi (bdk. DS 189.368.503.533.1880). Juga masih diafirmasikan oleh Konsili Vatikan II (LG No.63). Sejak abad III banyak penulis Kristen berwibawa mengakui gelar “Maria tetap perawan” (=semper virgo). Bahkan Untuk Gereja-gereja Barat/Latin ajaran resmi mengenai keperawanan Maria (semper virgo) itu sudah ada sejak sinode di kota Milan, Italia, pada tahun 391.

Sejak para saksi tradisi yang pertama, Maria dipandang oleh para Bapa gereja sebagai ibu yang perawan. Dalam symbola, yaitu pelbagai versi syahadat yang disusun sejak abad IV di gereja Barat dan Timur[47], Maria sudah disebut perawan. Konsili-konsili sementara pun mengambil alih sebutan itu dalam pengakuan iman yang dimaklumkannya, seperti Konsili Ekumenis I di Nikaia (tahun 325), Iidi Konstantinopel (tahun 381), III di Efesius (tahun 431), IV di Khalkedon (tahun 451) serta V di Konstantinopel pula (tahun 553). Mula-mula yang dimaksudkan adalah keperawanan Maria sebelum melahirkan, sebagaimana halnya pandangan Ignasius dan Justinus. Sampai Konsili Efesus belum ada kesepakatan antara para bapa gereja mangenai ajaran bahwa Maria tinggal tetap perawan sebagai suatu sikap sepanjang hidupnya. Keperawan jasmani Maria yang utuh pada waktu melahirkan itu tidak diajarkan oleh Tertulianus, Origenes dan Hieronimus, melainkan merupakan ajaran Ireneus, Klemens dari Alexandria, Gregorius dari Nyssa, serta beberapa pengarang lainnya. Sedangkan,  Maria sesudah melahirkan Yesus, Anaknya yang sulung, tinggal tetap perawan itu diajarkan oleh Origenes, Petrus I dari Alexandria, Gregorius dari Nyssa, Hilarius dan Hieronimus. Dengan menerima yang sebaliknya, hal itu dianggap oleh Basilius sebagai tak patut dipercaya. Pengaruh patristik yang mempertahankan bahwa Maria tetap perawan, baik waktu melahirkan maupun sesudahnya, ialah Yohanes Krisostomus, Efraim, Ambrosius dan Agustinus.[48]

                Keyakinan akan Keperawanan Maria menyebar luas dengan cepat menjadi keyakinan iman akan keperawanannya yang tetap. Jadi, sejak abad IV dikatakan dengan tegas bahwa Maria tetap perawan. Gelar itu dirincikan menjadi: perawan sebelum, waktu dan sesudah melahirkan. Juga Konsili Vatikan II (LG no. 49) menegaskan bahwa,”Kelahiran Yesus tidak merusak tetapi menguduskan keperawanan Maria”.[49] Sifat “tetap perawan” (aei parthenos, semper virgo) menjadi julukan Maria yang biasanya diembelkan kepada namanya bila disebut dalam doa-doa liturgi maupun dalam teks-teks nonliturgis, seperti sajak dan syair dalam seni sastra tentang Maria.

Oleh karena itu, secara tegas ditolak  pendapat bahwa Maria masih mendapat beberapa anak di samping Yesus sebagai anak sulung. Waktu Helvidius (abad IV) dan juga uskup Bonosus dari Naissus mengemukakan pendapat bahwa saudara-saudari Yesus yang disebutkan dalam Perjanjian Baru memang anak-anak Maria dan Yusuf, ia mendapat perlawanan kuat, khususnya dari pihak Hieronimus (± tahun 419).[50] Semenjak itu tradisi ini tidak lagi mendapat perlawanan sampai abad XIX.

Ungkapan bahwa Maria itu perawan sebelum, selama dan sesudah melahirkan sudah ada sejak abad VII, ketika diadakan Sinode Lateran (tahun 649; virginitas post partum).[51] Dalam Sinode inilah dimaklumkan bahwa Maria Tetap Perawan selamanya, sebelum, selama maupun sesudah kelahiran Yesus.

  1. Keperawanan sebelum kelahiran Yesus (virginitas ante partum) berarti Maria mengandung Yesus tanpa persetubuhan dengan seorang pria, melainkan Roh Kudus.
  2. Keperawanan dalam kelahiran (virginitas in partu) berarti Yesus dilahirkan tanpa merusakkan keutuhan keperawanan ibunya.
  3. Keperawanan tetap sepanjang umur (virginitas post partum), berarti juga setelah melahirkan Yesus, Maria tidak pernah bersetubuh dengan seorang pria dan tidak melahirkan anak lain.

Walaupun keperawanan Maria ante, in et post partum termasuk dalam isi iman Gereja serta pewartaannya, hanya keperawanan sebelum dan sesudah melahirkan itu dinyatakan secara resmi (dogma), sedangkan mengenai keperawanan in partu tidak ada defenisi formal[52].

  1. Perawan Sebelum Melahirkan

                Sesuai dengan Nubuat Yesaya:

Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: sesungguhnya seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. (Yesaya 7:14)

                Maka sejak semula Gereja yakin dan percaya bahwa Yesus Kristus diperkandungkan dan dilahirkan oleh perawan Maria oleh kuasa Roh Kudus, tanpa melalui proses persetubuhan dengan Yusuf (Mat. 1:18-25; Luk 1:26-38; 2:1-7). Injil Matius jelas menegaskan bahwa pada waktu Maria bertunangan  dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus.”Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.” (Mat 1:18). Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.” (Mat 1:24-25). Matius mau menekankan, bahwa maria mengandung bukan dari benih seorang laki-laki melainkan karya Roh Kudus.[53] Dengan demikian campur tangan Yusuf sungguh-sungguh tidak ada dalam proses penjelmaan Allah menjadi manusia  melalui rahim Maria. 

                Selain itu, menurut para penafsir Katolik ungkapan kata sampai dalam bahasa Semit tidak perlu berarti bahwa “sesudah itu keadaannya harus berubah. Dalam arti sesudah Maria melahirkan Yesus, Yusuf bersetubuh dengan Maria. Menurut  mereka kata “sampai” sebenarnya tidak selalu mengandung maksud untuk membicarakan keadaan sesudahnya. Karena itu, penafsir Katolik: M. Kraemer berpendapat bahwa:

Kata “sampai” kadang-kadang bisa berarti “lihatlah”. Karena itu, ia mengusulkan agar Mat 1:25 diterjemahkan sebagai berikut, ”Meskipun Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria, lihatlah ia melahirkan Yesus.[54]

Kalau terjemahan ini benar, maka Mat 1:25 mendukung keperawan seumur hidup, sewaktu dan sesudah melahirkan  Yesus keperawanan Maria tetap utuh.

                Kemudian dikatakan juga dalam Injil  Matius 1:20, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Jadi, Yusuf tetap mengambil  Maria sebagai isterinya, tetapi,”tidak bersetubuh dengan dia” sampai ia melahirkan anaknya laki-laki (bdk. Mat 1:24-25). Maria tetap perawan hingga kelahiran anaknya itu. Di sini peran Maria dalam kelahiran Yesus ialah bahwa ia mengandungnya dari Roh Kudus dan bahwa ia perawan dalam hubungan  dengan perkandungan itu.

                Pertanyaannya apakah keperawanan Maria menurut Matius di atas, merupakan sesuatu yang historis atau hanyalah teologis? Historis berarti itu sungguh-sungguh terjadi. Teologis berarti itu hanyalah mencerminkan iman jemaat,  dan kayakinan Matius yang sulit terbukti secara historis, ataukah perkandungan perawan itu hanyalah suatu faktum teologis.

                Ada ahli yang berpendapat bahwa conceptio virginalis adalah suatu deduksi teologi Kristen, misalnya dalam Mat 1:18-25 memberikan penekanan ini karena diutamakan di situ misteri pewahyuan Allah tentang cara perkandungan Yesus oleh Maria, serta peran kreatif roh Kudus. Keperawanan Maria khususnya dalam mengandung dan melahirkana Yesus berfungsi teologis khususnya kristologis, demi melukiskan asal ilahinya, martabat-Nya sebagai Anak Allah, sesudah perikop pertama yang menegaskan asal manusiawinya (1:1-17). Seperti wanita-wanita mandul dalam Perjanjian Lama dapat mengandung dan melahirkan karena kehendak Allah (Sarah dalam Kej. 17:15-17) demikian perawan mengandung dan melahirkan Yesus karena kuasa Roh Allah.[55]

                Sebaliknya ada pendapat yang melihat gagasan perkandungan secara perawan itu bersifat historis dan sekaligus teologis. Di samping gagasan teologis yang dikemukakan tadi, perkandungan perawan sungguh historis berdasarkan situasi yang dilukiskan misalnya dalam Mat. 1:18-24, yakni Maria mengandung pada saat sebelum tahap kedua perkawinan Yahudi (nissuin) berlangsung sebelum  mereka hidup bersama (Mat1:18). Lukas pun mengatakan hal yang sama (Luk 1:27)[56], bahwa Maria perawan tetapi telah bertunangan yang mengandaikan situasi interim itu.[57]

                Jadi, arti teks-teks di atas dalam konteks Maria telah bertunangan dengan Yusuf tetapi dia masih perawan. Berarti Maria belum di bawah ke rumah lelaki,  belum menjalani tahap kedua perkawinan Yahudi; relasi Maria dan Yusuf masih berada pada tahap pertama yang memang telah resmi berkat naungan Roh Kudus.

                Oleh keran itu, untuk dapat memahami dengan lebih baik hubungan Maria dan Yusuf perlu diketahui adat perkawinan Yahudi.

Tahap pertama:  yang resmi yang bisa dinamakan pertunangan tetapi secara yuridis telah sah, sebagai tahap perkawinan ialah tahap erusin. Masing-masing pihak sudah dilihat sebagai suami isteri tetapi masih tinggal terpisah belum diperkenankan hubungan seksual.

Tahap kedua: nissuin tahap definitif di mana suami isteri tinggal bersama. Situasi Yusuf dan Maria adalah sebelum tahap kedua itu ketika Maria ditemukan mengandung, sebelum mereka hidup bersama sebagai suami isteri (Mat. 1:18).[58]

               Jadi, dalam konteks perkawinan Yahudi, Maria mengandung sebelum mereka hidup bersama maka perlu dijelaskan bagimana perkandungan itu. Bahwa Maria perawan, itu disimpulkan dari perkataan nabi Yesaya (7:14).[59] Matius  menjelaskan dalam ayat 18 dan 20 bahwa anak yang dikandung itu dari Roh Kudus.

                Dalam Injil Lukas juga jelas menegaskan bahwa sekalipun Maria sudah bertunangan dengan Yusuf (Luk 1:27), namun, ia “belum bersuami” dengan Yusuf (Luk 1:34).[60] Jadi baik Injil Matius maupun Lukas dengan jelas menegaskan “keperawanan” Maria, ketika ia memperkandung dan melahirkan Yesus.[61] Dengan demikian,Perjanjian Baru memberikan bukti bahwa mengenai kepercayaan akan virginitas Maria ante partum (sebelum kelahiran), maksudnya kepercayaan akan dikandungnya Yesus secara perawan.[62]

                Argumen lain yang menunjang keperawanan Maria dalam mengandung dan melahirkan Yesus ialah persoalan atau keberatan yang dikemukakan Maria dalam Luk. 1:34. Maria tahu bahwa ia masih perawan ketika ia menerima berita dari malaikat.

Kata Malaikat Gabriel:

Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.[63]

Ketika malaikat menyampaikan berita itu, Maria terkejut dan bingung, oleh sebab itu, memang wajar bahwa Maria  bertanya kepada malakait  itu. Maria pantas bertanya, karena ia masih perawan (belum pernah melakukan hubungan seks dengan Yusuf atau dengan siapa pun juga). Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk. 1:34)

                Maka malaikat menjawab,”Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Yang Maha Tinggi akan menaungi engkau” (Luk. 1:35) Di sini malaikat mau menekankan bahwa Maria mengandung Yesus berkat daya kekuatan Allah.

                Pertanyaan Maria,”Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku belum bersuami? (Luk. 1:34).  Pertanyaan ini lalu menimbulkan banyak diskusi dan perbedaan pengertian. Namun, hanya dua jawaban yang ingin kami ungkapkan. Pertama, kita perlu memperhatikan situasi Maria ketika pertanyaan itu dilontarkan. Pertanyaan itu sepertinya memberikan indikasi bahwa Maria sudah membuat janji atau membuat kaul untuk tetap perawan sehingga pada waktu yang akan datang pun dia tetap perawan. Kedua, ada yang menyatakan keberadaan, bahwa pertanyaan itu hanya termasuk satu saran literer yang dipakai dalam berita kelahiran untuk memungkinkan penjelasan pada ayat menyusul (Luk. 1:35). Kita bisa melihat bahwa pertanyaan itu tetap relevan dalam penjelasan yang menyusul kemudian. Terjemahan harafiah  ayat itu memungkinkan kita untuk mengerti dan  menemukan artinya, ”Bagaimana hal itu terjadi, karena aku belum bersuami? Di sini yang paling penting adalah dipakai waktu presens, keadaan aktual, bukan rencana: mengenal yang dalam pengertian Yahudi ialah berhubungan seks. Kata-kata Maria berkenaan dengan keadaannya kini, bukan rencananya. Maria tidak membuat presumsi, tidak melengkapi kata-kata malaikat, tidak menambahkana apa-apa, dia menerima kata-kata itu apa adanya dan membandingkan dengan keadaannya yang aktual. Maria menunjukkan diri sebagai pendengar yang penuh perhatian akan kata-kata Tuhan dan dalam  keterbukaan meminta malaikat Tuhan agar memungkinkannya mengerti misi yang diberikan kepadanya, menjadi ibu. Dan mempersiapkan jawaban dalam Luk 1:35.  Dengan demikian, keibuan Maria terjadi karena karya, kuasa Roh Allah, dan tidak ada hubungan dengan laki-laki.

                Menurut gambaran Injil Lukas Maria sepenuhnya merelakan diri bagi maksud Allah. Meskipun belum nikah ia menyetujui (Luk 1:38)[64] maksud Allah dan sebulat-bulatnya menjadi hamba Allah. Kerelaan itulah yang merupakan dimensi spiritual keperawanan  ditinjau dari sisi Maria. Ia merelakan dirinya dan seluruh hidupnya untuk melayani rencana Allah. Mengingat bahwa anak Maria, Yesus menjadi Juru Selamat umat manusia, maka ibu-Nya juga merelakan dirinya bagi penyelamatan dunia, berarti : Kerajaan Allah. Maka Maria perawan (spiritual/fisik) demi Kerajaan Allah. Dengan demikian keperawanan  Maria merupakan akibat dari kedudukan dan peranannya dalam rencana dan pelaksanaan penyelamatan Allah. Atas dasar pilihan Allah ia merelakan diri sepenuhnya untuk menjadi peserta dalam tata penyelamatan, sebagaimana nyata terwujud. Maria menjadi perawan oleh karena dipilih oleh Allah untuk  berperan sebagai ibunda  Juruselamat dalam penyelamatan dari Allah. Penerimaan dari Maria itulah yang terungkap dalam keperawanan Maria.[65]

  • Perawan Waktu  Melahirkan

                Seperti pada waktu sebelum melahirkan demikian pula pada waktu melahirkan keperawanan Maria tetap dipesoalkan. Pada pertengahan abad III para penulis Kristen tidak merasa tertarik secara istimewa untuk menyatakan bahwa Maria mempertahankan keperawanan jasmaninya pada waktu melahirkan. Ireneus, Klemens dari Alexandaria dan Origenes berpendapat bahwa,”Maria melahirkan dengan cara yang alamiah”. Dan hal ini tidak bertentangan dengan keperawanannya.”[66] Para Penulis dalam abad IV seperti Athanasius, Sirilus, Epiphanius, Basilius dan Gregorius Nazianze rupanya menganggap itu bukan soal yang penting. Basilius hanya menekankan bahwa,”Maria tidak pernah berhenti menjadi seorang perawan dan ibu”.[67] Dan, Gregorius Nyssa menekankan bahwa,”Maria tidak ikut serta dalam kenikmatan indrawi sebelum melahirkan dan dalam kesakitan selama melahirkan seperti wanita wanita-wanita lain. Amfilokius dari Ikonium,  murid Gregorius Nyssa, menekankan bahwa,”Gapura keperawanannya tidak terbuka sama sekali. Cara Yesus dilahirkan tak terkatakan sama sekali.[68]

                Pandangan-pandangan tersebut di atas dipertegas oleh Konsili Efesus (431) yang secara resmi menentukan bahwa,”Maria benar-benar Bunda Allah, kesucian dan keperwanannya diluhurkan, baik sebelum, maupun selama dan sesudah melahirkan.”[69] Memang sekarang sulit dipahami arti keperawanan dalam melahirkan dan apa nilainya. Tetapi menurut iman Gereja Maria berada di bawah kuasa Roh Kudus bukan hanya waktu mengandung, melainkan juga sejak awal hidupnya. Maria sendiri yang dijatuhkan oleh Allah atas Hawa yang tidak taat. “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu”. (Kej. 3:16). Oleh sebab itu,  iman umat Kristen sejak abad keempat sampai sekarang mengandaikan ada turun tangan Allah yang memperkenankan Maria mengalami kegembiraan dari pada kesakitan. Dalam mengalami proses bersalin ia dikhususkan dari wanita-wanita lain yang mendapat kutukan dari Allah. Dengan demikian, keperawanan tidak mementingkan penyelidikan biologis tentang cara Maria melahirkan Yesus dari rahimnya, tetapi menyangkut misteri iman serta kesadarannya sebagai perawan bahwa ia sedang melahirkan anak sebagai suatu pemberian yang datang sepenuhnya dari Allah. Dalam arti tertentu pada waktu melahirkan, ia bertumbuh dalam keperawanannya yang berupa penyerahan diri kepada Allah untuk mengabdi Sabda-Nya.

                Ada suatu tafsiran penting penting dan tradisi pengupasan yang memberikan  kepada kita kesaksian SantoYohanes tentang keprawanan Maria waktu melahirkan di dalam Prakata Injilnya. Ayat 13 dalam Prakata biasanya, terutama dalam tradisi yang mengikuti Vulgata, diterjemahkan begini:

Tetapi semua orang yang menerima-Nya di beri-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang yang diperanakan bukan  dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.[70]

                Terjemahan seperti itu mengukuhkan keperawanan Maria waktu melahirkan seperti diungkapkan dalam Mat. 1: 16, 18-23 dan Luk 1:26-38. Tokoh-tokoh paling kuno seperti Irenaeus, Tertullianus dan Agustinus menggunakan terjemahan tersebut  yang memberikan  kesaksian penting St. Yohanes tentang keperawanan Maria waktu melahirkan Yesus. Menurut tafsiran itu Yesus dilahirkan dari atas; tidak ada “keinginan seorang laki-laki” melainkan hanya “Allah”sendiri yang merupakan kekuatan pemrakarsa dan pencipta yang memasukkan Yesus ke dalam keberadaan kita. Tindakannya berasal dari Allah sepenuhnya.[71]

  • Perawan Sesudah Melahirkan

                Keperawanan setelah melahirkan masih terus diperdebatkan.  Dalam Injil Matius dikatakan bahwa Yesus mempunyai beberapa saudara. “Bukankah ia ini anak tukang kayu. Bukankah ibu-Nya bernama Maria? Dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan ada bersama kita? (Mat. 3:55-56). Lalu dilanjutkan, datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia” (Mrk. 3:31). Cerita dalam Injil Matius dan Markus tersebut menimbulkan persoalan: Maria tidak perawan karena ia telah melahirkan anak-anak lain selainYesus; juga muncul pandangan bahwa Maria dan Yusuf mengadakan hubungan suami isteri sesudah kelahiran Yesus. Hal ini merupakan suatu problem yang diperdebatkan umat Kristen sepanjang 2000 tahun.[72]

                Oleh karena itu, baiklah kita melihat lebih dahulu fakta-fakta yang kiranya dapat mendukung keperawanan Maria sesudah melahirkan Yesus. Pertama-tama perlu diketahui bahwa bagi orang Yahudi (dan orang Timur pada umumnya) memahami pengertian “saudara” itu bisa sempit, bisa juga amat luas. Baik kata Ibrani akh, maupun terjemahan Yunaninya adelphos dapat mempunyai macam-macam arti:

  • Saudara kandung (misalnya Kain adalah saudara Abel, Kej 4:2)
  • Saudara tiri (misalnyaa raja Filipus adalah saudara [tiri] raja Herodes, Mrk. 6:17-18)
  • Sanak-keluarga atau kerabat (misalnya dalam Kej. 13:8 Abraham berkata Lot, keponakannya itu, “kita ini saudara” [terjemahan LAI:”kita ini kerabat])[73]

Dalam bahasa Ibrani  kata (ah,’ah) dapat mempunyai arti yang lebih luas dan menunjuk kepada saudara-saudara yang lain (keponakan). Terjemahan Yunani (LXX) biasanya  menterjamahkan secara harafiah dengan kata Yunani: adelphos/adelphe, meskipun dalam  bahasa Yunani tersedia kata-kata lain (tidak ada dalam bahasa ibrani) untuk menunjuk hubungan kekeluargaan secara terperenci, misalnya: enopsis (keponakan).

                Kecuali itu dalam bahasa Yunani kata Adelphos dapat dipakai dalam  arti  yang lebih luas. Hal itu misalnya dipakai untuk meningkatkan relasi kekeluargaannya dengan seorang tokoh penting (raja). Maka mungkinlah pada umat Kristen berkembang kebiasaan menyebut sanak saudara Yesus sebagai  saudara-saudara-Nya untuk menghormati sanak saudara itu, yang memegang peranan cukup penting pada umat perdana

                Dari contoh-contoh di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian “saudara” itu bisa sempit, bisa juga luas. Jadi, “ibu dan saudara-saudara Yesus” tidak harus berarti saudara-saudara kandung Yesus” tidak harus berarti saudara-saudari kandung Yesus.

                Ada tradisi yang berpendapat kuat bahwa Maria secara bebas memilih tetap menjadi perawan sesudah melahirkan Yesus.[74] Dan menurut kepercayaan sampai sekarang bahwa  setelah melahirkan Maria masih tetap perawan.

                Pendapat yang mendukung keperawanan Maria sesudah melahirkan juga diungkapkan oleh Origenes. Origenes mengungkapkan kepercayaan umat Kristen pada umumnya, ”Tak seorang pun berpandangan tepat tentang Maria akan  mengatakan bahwa ia mempunyai anak selain Yesus”.[75]  Keyakinan akan kelestarian keperawanan Maria disebabkan oleh kepercayaan, bahwa oleh penjelmaan Putera Allah, tubuh Maria menjadi seperti kenisah yang dikhususkan kepada Roh Kudus dan Sabda Allah dengan pengudusan yang tidak dapat ditarik kembali.

                Ketika para pengarang Injil mengisahkan riwayat penjelmaan, mereka bermaksud menyoroti kegiatan Roh Kudus yang membuat Maria bunda-perawan Immanuel. Dalam sejarah keselamatan keperawanan Maria merupakan suatu tanda segar dari karya Roh yang baru. Dengan demikian, pengaharapan akan Al-Masih diwujudkan, apa yang dahulu hanya merupakan harapan kini menjadi kenyataan. Keperawanan Maria menunjuk pada suatu karisma permanen, suatu tanda bersinambung yang akan berlangsung terus selama peran keperawanan dan keibuan Maria dipersatukan dengan Kristus.[76]

Telah diungkapkan bahwa para Bapa Gereja menyebut Maria “tetap perawan”, artinya sebelum, selama dan sesudah melahirkan puteranya, merupakan suatu tanda permanen di dalam sejarah keselamatan. Keperawanan Maria yang abadi menunjukkan bahwa “persatuan dengan Putera itu di dalam karya keselamatan dimanifestasikan dari saat perkandungan Kristus secara perawan sampai dengan wafat-Nya”. (LG.57).[77] Keperawanan Maria  menekankan kesempurnaan keibuan di dalam tertib rahmat. Ia merupakan persekutuan yang penuh dengan Kristus selaku Bunda dan pendamping. Bahkan pernyataan atau gelar Maria tetap perawan sebenarnya sudah muncul sejak abad ke IV (Epiphanius). Gelar itu dirincikan menjadi: perawan sebelum, waktu dan sesudah melahirkan (bdk. DS 44.46.291.299. 442. 533. 571. 1880).  Tesis ini diteguhkan dalam Sinode Lateran tahun 649  di bawah kepemimpinan Paus Martinus I,”Keperawanan Maria sama sekali tidak dibatalkan dengan kelahiran Yesus Kristus dari rahimnya. Justru yang terjadi sebaliknya. Karena Kristus lahir dari rahimnya, sedang Kristus sendiri tidak mempunyai seorang bapak biologis[78], maka Maria tetap perawan. Dalam hal ini Allah yang melampui segala  perhitungan akal manusiawi telah bertindak sebagai jaminan keperawanan Santa Maria.[79]

                Juga Konsili Vatikan II (LG. 49) menegaskan bahwa,”kelahiran Yesus tidak merusak tetapi menguduskan keperawanan Maria. Hanya maksud rumus itu tidak dijelaskan. Kata “perawan/keperawanan” dalam tradisi tidak selalu sama artinya. Kadang-kadang dimaksudkan ialah keperawanan fisik. Tetapi, lain kali terlebih sikap hati, penyerahan ekslusif dan total yang dimaksudkan. Maka “keperawanan dalam melahirkan” dapat dimengerti sebagai: sebulat-sebulatnya Maria secara pribadi merelakan diri untuk melahirkan Yesus dan menjadi ibuNya.[80] Supaya tidak menimbulkan keraguan lagi, Konsili Vatikan II akhirnya menegaskan kembali keperawanan Maria sebagai dogma atau ajaran Gereja (bdk. DS 427). Mengenai keperawanan Maria, Konsili Vatikan II menguatkan pernyataan Konsili Lateran (649), yaitu bahwa,” kelahiran Yesus Kristus sama sekali tidak  mengurangi keutuhan keperawanan Maria, melainkan justru menyucikannya (LG 57)”. [81] Liturgi Gereja menghormati Maria sebagai “yang selalu perawan” (Aeiparthenos).[82]

Penutup

Sejak abad II, Gereja sudah mengakui dan mengimani bahwa “Maria tetap perawan”, juga setelah melahirkan Yesus. Pada abad ke-3 keperawanan Maria diakui dalam syahadat-syahadat dan secara khusus ditegaskan kembali dalam Konsili Konstantinopel II (tahun 553).  Dalam  abad III ini keyakinan bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus dan tetap perawan yang telah masuk dalam shayadat, selalu berkata: Yesus Kristus, Anak Allah, yang karena Roh Kudus, lahir dari perawan Maria.

  Keyakinan akan Keperawanan Maria menyebar luas dengan cepat menjadi keyakinan iman sehingga pada abad IV gelar Maria Tetap Perawan dirincikan lagi menjadi: perawan sebelum, waktu dan sesudah melahirkan. Keperawanan sebelum kelahiran Yesus (virginitas ante partum) berarti Maria mengandung Yesus tanpa persetubuhan dengan seorang pria, melainkan Roh Kudus; Keperawanan dalam kelahiran (virginitas in partu) berarti Yesus dilahirkan tanpa merusakkan keutuhan keperawanan ibunya; Keperawanan tetap sepanjang umur (virginitas post partum), berarti juga setelah melahirkan Yesus, Maria tidak pernah bersetubuh dengan seorang pria dan tidak melahirkan anak lain.

DAFTAR PUSTAKA

Alex I. Suwandi. Tanya Jawab Syahadat Iman Katolik. Yogyakarta: Kanisius, 1992.

A, Eddy Kristiyanto. Maria Dalam Gereja:Pokok-Pokok Ajaran Konsili Vatikan II Tentang Maria Dalam Gereja. Yogyakarta: Kanisius,1987.

,Augustinus. Bagai Terang di Hati: Kumpulan Khotbah Natal sampai dengan Pentakosta, terj. Ny.Winarsih Arifin dan  Th. van den End. Kanisius: Yogyakarta, 2005 & BPK  Gunung Mulia: Jakarta, 2005

Bernadot. Maria dalam Hidupku. Yogyakarta: Kanisius, 1964.

Bifet, J. E. Maria: Model Gereja Dalam Tugas Perutusan. Jakarta: Biro Karya Kepausan Indonesia, 1988.

Buku Pegangan Legio Mariae

Catatan Mata Kuliah. “Sejarah Perkembangan Dogma.” STF- Seminari Pineleng, 2007.

Graef, Hilda. Devotion to The Blessed Virgin. London: Burn & Oates,1963

Groenen, C. Mariologi: Teologi dan Devosi. Yogyakarta: Kanisius, 1988.

Hjiolah, H. Sekilas Tentang Maria. Yogyakarta: Pustaka Nusantara, 2003.

Imamaculate Conception. dalam http//www. Coronachatolicapologetic.com.

Immaculate Conception: The Doctrin. dalam http//www.newadvent.com.

Kristiyanto, Eddy. Maria Dalam Gereja:Pokok-Pokok Ajaran Konsili Vatikan II Tentang Maria Dalam Gereja (Yogyakarta: Kanisius,1987)

KWI, Iman Katolik. Yogyakarta: Kanisius, 1996.

Katekismus Gereja Katolik

Kirchberger, P.G. “Dogma-dogma tentang Maria,” dalam Seri Buku Pastoralia, Maria Seri XIV/2/1988.

Konsili Vatikan II.  Kontitusi Dogmatik Tentang Gereja, “Lumen Gentium” Terjemahan:

R. Hardawiryana. Jakarta: Obor, 1993.

Syukur Dister, Nico. Teologi Sistematika 2: Ekonomi Keselamatan.Yogyakarta: Kanisius, 2004.

Made Yono, Sirilus. “Maria Penuh Rahmat.” Skripsi S1 STF-Seminari Pineleng, 2005.

Maloney, G. A. Maria Rahim Allah. Yogyakarta: Kanisius, 1990.

Pidyarto, H. Mempertanggunjawabkan Iman Katolik, buku ketiga thn. X no.2.  Malang:      Dioma, 1992.

Pastoralia, Maria (Flores-Ende: Arnoldus, 1998). 

Suenens, Leon Joseph Cardinal. Mary The Mother of God. London: Burns & Oates, 1963.

.


[1] Catatan Mata Kuliah “Sejarah Perkembangan Dogma”, STF- Seminari Pineleng, 2007.

[2] Immaculate Conception: The Doctrin, dalam http//www.newadvent.com.

[3] Imamaculate Conception, dalam http//www. Coronachatolicapologetic.com.

[4] Hilda Graef, Devotion to The Blessed Virgin (London: Burn & Oates), hlm. 20.

[5] Immaculate Conception: The Doctrin, dalam http//www.newadvent.com.

[6] Ibid.

[7] Bdk. Hilda Graef, Devotion to The Blessed Virgin, hlm. 20.

[8] Hilda Graef, Devotion to The Blessed Virgin, hlm. 20.

[9] Immaculate Conception: The Doctrin, dalam http//www.newadvent.com.

[10] Alfred McBride, Images Of Mary (Jakarata: Obor, 2004), hlm. 155.

[11] Hilda Graef, Devotion to The Blessed Virgin, hlm. 20.

[12] Imamaculate Conception, dalam http//www. Coronachatolicapologetic.com.

[13] Alfred McBride, Images Of Mary, hlm. 123.

[14] Immaculate Conception: The Doctrin, dalam http//www.newadvent.com.        

[15]  Imamaculate Conception, dalam http//www. Coronachatolicapologetic.com.

[16] Immaculate Conception: The Doctrin, dalam http//www.newadvent.com.

[17] Ibid.

[18] Ibid.

[19]Ibid.

[20]Maloney, Maria Rahim Allah, hlm. 140.

[21]Immaculate Conception: The Doctrin, dalam http//www.newadvent.com.         

[22]Ibid.

[23]Ibid.

[24]Imamaculate Conception, dalam http//www. Coronachatolicapologetic.com.

[25]Ibid.

[26]Bernadot, Maria dalam Hidupku (Yogyakarta: Kanisius, 1964), hlm. 7.

[27]Imamaculate Conception, dalam http//www. Coronachatolicapologetic.com.

[28]Maloney, Maria Rahim Allah, hlm. 140.

[29] Ignatius berkata,”Tetap tersembunyi bagi penguasa dunia ini bahwa Maria itu perawan, maupun bahwa ia telah melahirkan, maupun juga bahwa Tuhan telah wafat, tiga rahasia yang berseru dengan nyaring namun dilaksanakan dalam keheningan Allah. Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika ,hlm. 453.

[30]“Keperawanan” (cara Yesus dikandung), mempunyai arti simbolik. Pertama-tama mau dikatakan sesuatu  tentang Yesus Kristus, yang diimani umat Kristen. Yesus, Juru Selamat tentu saja bukan hasil kerja dan usaha manusia, melainkan karunia Allah semata-mata. Dengan Yesus masuklah ke dalam dunia dan ke dalam sejarah umat manusia suatu unsur yang bukan hasil dunia atau sejarah.

[31] Bdk. C. Groenen, Mariologi: Teologi dan Devosi (Yogyakarta: Kanisius, 1988), hlm. 42

[32]Ibid,. hlm. 45. 

[33]G. A. Maloney, Maria Rahim Allah, hlm. 61.

[34]Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika 2, hlm. 454. 

[35]Graef, Devotion to The Blessed Virgin, hlm. 17; Immaculate Conception: The Doctrin, dalam http//www.newadvent.com. Bdk. Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika 2, hlm.456-457.

[36] Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika 2, hlm.456.

[37] Ibid., hlm. 458-459.

[38] Ibid., hlm.461.

[39]Buku Pegangan Legio Mariae, hlm. 21.

[40]Augustinus, Bagai Terang di Hati: Kumpulan Khotbah Natal sampai dengan Pentakosta, terj. Ny.Winarsih Arifin dan  Th. van den End (Kanisius: Yogyakarta, 2005 & BPK  Gunung Mulia: Jakarta, 2005), hlm. 45.

[41]Rumusan yang dikandung oleh Roh Kudus, ditegaskan kembali dalam konsili konstantinopell  tahun 381 untuk melawan ajaran sesat dari Macedonius, yang menyangkal keilahian Roh Kudus, sehingga rumusan iman tenang keilahian Roh Kudus mendapat perhatian khusus dalam sidang di Konstantinopel, dalam Alex I. Suwandi, Tanya Jawab Syahadat Iman Katolik (Yogyakarta: Kanisius, 1992), hlm. 12.

[42]Dalam abad II Keperawanan Maria sudah disebutkan dalam shayat singkat (para rasul), kemudian ditegaskan kembali oleh Bapa-bapa Gereja sebagai ibu perawan  sebagai ajaran iman yang resmi dalam Konsili Konstantinopel tahun 381.

[43] Bdk. C. Groenen, Mariologi: Teologi dan Devos (Yogyakarta: Kanisius, 1988), hlm. 42.

                [44]Terkutip dalam G. A. Maloney, Maria Rahim Allah, hlm. 103

                [45]Tekutip dalam Ibid., hlm. 31

[46]Syahadat Nisea-Konstantinopel (syahadat panjang) diresmikan pada Konsili Konstantinopel I (tahun 381), yang menambahkan bagian terakhir syahadat itu (yakni kata-kata sesudah Roh Kudus) pada syahadat yang diresmikan pada Konsili Nisea (tahun 325). Konsili Kalsedon (tahun 451) selanjutnya mempergunakan syahadat ini sebagai dasar pembicaraannya. Perbedaan pokok antara syahadat pendek dan syahadat penjang adalah bahwa yang pertama berasal dari liturgi baptis, sedangkan yang panjang dirumuskan guna membela ajaran Gereja terhadap ajaran-ajaran yang dianggap sesat atau tidak tepat (bidaah).

[47]Shayadat Nicea didaraskan oleh sebagian umat Kristen Timur dan Barat sebagai dasar pengakuan iman menyatakan, “Dan akan Yesus Kristus, Putra-Nya yang tunggal Tuhan kita, yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria”.  Umat Ortodoks Timur dan Katolik Roma telah mempertahankan iman tak tergoncangkan akan kelahiran Yesus dari Perawan selama 2000 tahun. Itu berarti bahwa Maria mengandung Puteranya, Yesus Kristus, berkat kuasa Roh Kudus tanpa adanya pengaruh sedikit pun dari seorang ayah duniawi.

[48]St. Agustinus dari Hipo (354-430) juga menegaskan bahwa,”Maria tetap perawan, ketika ia mengandung Puteranya, perawan ketika ia melahirkan-Nya, perawan ketika ia menyusui-Nya; pendek kata ia selalu perawanan. Lihat,  H. Hjiolah, Sekilas Tentang Maria (Yogyakarta: Pustaka Nusantara, 2003), hlm. 30.

[49] C. Groenen, Mariologi, hlm. 57.

[50]Hieronimus mengatakan bahwa,”saudara-saudari Yesus ialah keponakan-keponakan-Nya, anak-anak saudari (ipar) ibu Yesus, isteri Kleopas yang tampil dalam Yoh 19:25, dan anak-anak seorang Maria (dan suaminya) yang disebutkan Mrk 15:40.47 dan yang entah, bagaimana, berkerabat dengan ibu Yesus. Pendapat itu menjadi hampir saja umum dalam Gereja Katolik, kawasan Barat. Dalam, C. Groenen, Mariologi, hlm. 59.

[51]Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika 2: Ekonomi Keselamatan (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hlm. 467

[52]Niko Syukur Dister, Teologi Sistematika 2, hlm. 468.

                [53]Bdk. Pendapat Yustinus (apologit dan Martir ± 165), yang coba membuat persamaan antara Maria dan Hawa, juga menekankan keperawan Maria sebelum melahirkan Yesus.  Ia mengatakan bahwa,”Dalam iman dan suka citalah, Maria Perawan mengandung ketika Malaikat Gabriel menyampaikan berita kepadanya…yang ia jawab,”Jadilah  padaku menurut perkataanmu itu. Jadi, melalui perantaraan perawan itu, Yesus datang ke dalam dunia…Dialah yang akan membebaskan dari kematian orang-orang perasaan mereka yang jahat dan percaya kepada-Nya, dalam  G. A. Maloney, Maria Rahim Allah, hlm. 61.

                [54]Terkutip dalam H. Pidyarto, Mempertanggungjawabkan Iman Katolik, buku ketiga thn. X no.2  (Malang: Dioma, 1992), hlm. 31.

                [55]Bdk. Pastoralia, Maria (Flores-Ende: Arnoldus, 1998), hlm. 27. 

                [56]Kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.

                [57]Bdk. Pastoralia, Maria, hlm. 27. 

                [58]Bdk. Pastoralia, Maria, hlm. 23

                [59]Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.

                [60]Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”

                [61]H. Hjiolah, Sekilas Tentang Maria (Yogyakarta: Pustaka Nusantara, 2003), hlm. 30.

                [62]Pastoralia, Maria, hlm 63.

                [63]Luk. 1:31-33

                [64]Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu

                [65]Bdk. C. Groenen, Mariologi Teologi dan Devosi (Yogyakarta: Kanisius, 1987), hlm.54-55

                [66]Terkutip dalam  G. A. Maloney, Maria Rahim Allah  (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hlm. 43

                [67]Ibid.,

                [68]Bdk.Ibid.,

                [69]Bdk.Ibid.,

                [70]Yoh 1:12-13. 

                [71]Bdk. G. A. Maloney, Maria Rahim Allah, hlm. 47-48

                [72]Bdk., hlm. 44. 

                [73]H. Pidyarto, Mempertanggunjawabkan Iman Katolik, buku ketiga thn. X no.2  (Malang: Dioma, 1992), hlm. 31

                [74]Bdk. G. A. Maloney, Maria Rahim Allah, hlm.45

                [75]G. A. Maloney, Maria Rahim Allah, hlm. 45.

                [76]Bdk. J. E. Bifet, Maria Model Gereja Dalam Tugas Perutusan  (Jakarta: Biro Karya Kepausan Indonesia, 1988), hlm. 46-47.

[77] Bdk. Katekismus Gereja Katolik No. 499 (Ende, Arnoldus, 1995), hlm. 158.

                [78]DS. 10-13

                [79]Bdk. A. Eddy Kristiyanto, Maria Dalam Gereja:Pokok-Pokok Ajaran Konsili Vatikan II Tentang Maria Dalam Gereja (Yogyakarta: Kanisius,1987), hlm.20-21.

                [80]Bdk. C. Groenen, Mariologi Teologi Dan Devosi (Yogyakarta: Kanisius, 1988), hlm.57.

                [81]Ibid.,

                [82]Bdk. LG 52.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *